Laba Bersih Indocement Diutamakan untuk Bayar Utang

Laba Bersih Indocement Diutamakan untuk Bayar Utang

- detikFinance
Sabtu, 28 Mei 2005 17:59 WIB
Jakarta - Pemegang saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) sepertinya belum bisa mengharapkan dividen dari perseroan. Indocement lebih mengutamakan pembayaran utang atas perolehan laba bersih 2004."Kami belum bisa memutuskan apakah akan membagikan dividen atau tidak, karena laba bersih 2004 diutamakan untuk bayar utang," kata Direktur Keuangan Indocement Christian Kartawijaya di sela-sela acara Media Workshop yang berlangsung di Hotel Grand Mahakam Jakarta, Sabtu (28/5/2005).Perseroan akan memutuskan jadi atau tidaknya pembagian dividen dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) pada 16 Juni 2005. "Kalau waktunya sudah dekat RUPS baru kita putuskan soal dividen ini, sekarang masih terus dibahas," ujar Christian. Indocement terakhir membagikan dividen pada tahun 1997. Sejak saat itu perseroan harus berjuang melawan krisis karena membengkaknya utang yang mencapai US$ 1,1 miliar akibat melonjaknya nilai tukar rupiah. Pada waktu itu Indocement juga sempat menjadi pasien BPPN dan keluar setelah sahamnya dibeli oleh HeidelbergCement tahun 2000.Pasca diambil alih HeidelbergCement, kinerja keuangan Indocement terus membaik, di mana tahun 2002 mulai memperoleh laba bersih Rp 1,041 triliun. Kondisi ini berbalik dari keadaan tahun 2001 yang mengalami rugi bersih Rp 63,1 miliar. Perbaikan tersebut terutama didukung laba kurs, peningkatan penjualan, dan penghematan biaya operasi. Sementara pada tahun 2003 perseroan mencatat laba bersih sebesar Rp 670 miliar atau lebih kecil dibandingkan tahun 2002 sebesar Rp 1,041 triliun, yang juga disebabkan penurunan laba kurs. Demikian pula tahun 2004 laba bersih yang dibukukan sebesar Rp 116,023 miliar. Turun naiknya laba bersih perseroan ini karena masih adanya utang dalam mata uang dolar AS. Sepanjang tahun 2005 perseroan menganggarkan dana untuk pembayaran utang sebesar Rp 729,265 miliar, naik dibandingkan tahun 2004 yang sebesar Rp 497,316 miliar. Pada RUPS 23 Februari 2005, Indocement mendapat persetujuan untuk mendapatkan pinjaman sebesar US$ 150 juta dari Heidelberg Finance BV, anak usaha HeidelbergCement. "Jumlah utang akan berkurang banyak pada tahun 2009, sementara jika mengacu MFA (Master Facilities Agreement) utang selesai pada April 2008," katanya. (ir/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads