Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara menjelaskan, fluktuasi nilai tukar dolar AS yang sempat menyentuh kisaran Rp 13.600 terjadi bukan karena kondisi domestik.
"Memang eksternal lagi faktornya, suku bunga acuan di Amerika Serikat (AS) mau naik pada Desember, tahun depan akan naik lagi tapi belum diketahui berapa naiknya," kata Mirza dalam acara Economic & Capital Market Outlook 2018, di Financial Hall, Jakarta, Selasa (31/10/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kebijakan dia berhasil yaitu menurunkan pajak, itu bisa mengundang uang kembali ke AS, kemudian ekonomi AS booming kembali," ujarnya.
Menurut Mirza dengan pertumbuhan ekonomi AS yang membaik, otomatis akan membuat pasar modal AS dan inflasi membaik.
"Kalau outlook-nya naik berarti suku bunganya bisa naik lebih cepat. Dan ini bisa pengaruhi," jelas dia.
Baca juga: Dolar AS Perkasa, Harga Emas Tumbang |
Dari data BI di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) per 31 Oktober 2017 nilai tukar dolar AS tercatat Rp 13.572 menurun 8 poin dibandingkan hari sebelumnya Rp 13.580.
Akhir pekan lalu, pada data Jisdor terpampang dolar AS sebesar Rp 13.630, menguat 70 poin dibandingkan hari sebelumnya Rp 13.560.











































