Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 01 Nov 2017 15:09 WIB

Penjualan Melambat, Unilever: Konsumen Pilih Produk yang Lebih Murah

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Ilustrasi Daya Beli Lesu (Foto: Ari Saputra) Ilustrasi Daya Beli Lesu (Foto: Ari Saputra)
Tangerang - Pertumbuhan pendapatan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) pada sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini terhitung melambat dibandingkan pertumbuhan dalam periode yang sama di tahun sebelumnya. Hingga kuartal III, pertumbuhan pendapatan Perseroan secara year to date hanya sekitar 3,7% sedangkan tahun lalu pertumbuhannya mencapai 9,25%.

Direktur Keuangan Unilever Indonesia, Tevilyan Yudhistira Rusli mengatakan hal ini disebabkan adanya peralihan atau shifting pasar konsumen pada segmen menengah ke bawah. Shifting konsumen ini membuat produk yang biasa dibeli oleh segmen menengah bergeser ke produk segmen lebih bawah.

"Kalau saya lihat trennya itu perubahan shifting di konsumer. Jadi kan memang household spending (pengeluaran rumah tangga) kan berkurang berdasarkan research yang ada. Jadi turun ke value segment. Tapi yang premium ya tetap jalan. Yang tergerus yang tengah. Kalau kita lihat itu yang kena tengah ke bawah," katanya saat ditemui pada acara Public Expose di Grha Unilever, Tangerang, Rabu (1/11/2017).


Hal ini dipertegas oleh Sekretaris Perusahaan Unilever Indonesia, Sancoyo Antarikso. Meski menolak bahwa ada pelemahan daya beli di masyarakat, namun dia bilang pertumbuhan market tahun ini memang tak secepat sebelumnya.

Hal ini tercermin dari penjualan produk home and personal care Unilever yang hanya berhasil naik tipis 2,1% dari Rp 20,6 triliun ke Rp 21,1 triliun, sedangkan foods and refreshment naiknya sebesar 7,1% dari Rp 9,5 triliun ke Rp 10,1 triliun.

"Kalau market saya enggak mau komentari soal daya beli, tapi market itu pertumbuhannya memang tidak secepat sebelumnya. Contohnya seakan akan ada dua speed ekonomi yang sedang berjalan di Indonesia. Yang Menengah ke atas tetap baik sementara yang menengah ke bawah makin ke bawah," ungkapnya.

Produk-produk Unilever yang mengalami perlambatan penjualan itu kata dia ada di kategori food and consumer good.

"Ada 55 kategori sih sebetulnya termasuk semua kategori kami termasuk kategori lain seperti susu dan yang lainnya. Tapi saya enggak ingat detilnya," ungkap dia.

Mengatasi perubahan perilaku konsumsi masyarakat ini, Unilever akan mengeluarkan produk-produk baru yang lebih dekat dengan masyarakat atau konsumennya. Pada tahun depan, Perseroan berencana mengeluarkan 40 hingga 50 varian dan produk baru yang diharapkan bisa memikat konsumen.

"Jadi kami bergerak tidak hanya harga ada kualitas dan layanan. Yang akan kita lakukan untuk mengantisipasi hal tersebut kami berusaha mendengarkan keluhan customer sehingga kami bisa memberikan produk dan layanan yang diharapkan oleh mereka," tutur Sancoyo.

"Kalau launch itu misalnya tahun ini kita launch sariwangi melati. Itu launch varian baru tapi merek sudah ada. Ada lagi yang namanya hijab fresh, itu brand baru. Kalau kita tahun lalu relaunch Sunsilk, itu brand dan varian sudah ada, tapi direlaunch kemasan baru," jelas dia.

Sementara untuk proyeksi pertumbuhan penjualan Perseroan tahun ini, manajemen masih enggan untuk memberikan proyeksi mengingat market saat ini yang masih belum pasti.

"Kami tidak memberikan jawaban untuk itu," tutupnya. (eds/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com