BAT Pindahkan Pabrik ke Asia
Jumat, 03 Jun 2005 13:19 WIB
Jakarta - Asia kian menawan untuk investasi. Salah satu perusahaan rokok terbesar dunia, British American Tobacco (BAT) bahkan memutuskan mengalihkan seperempat produksinya di Inggris ke Singapura dan Korea Selatan."Biaya produksi di Asia jauh lebih rendah, dan pabrik-pabrik di Singapura dan Korea lebih dekat dengan tujuan pasar," kata pimpinan BAT untuk Inggris dan Irlandia, Alan Short, dalam pernyataannya seperti dilansir BBC, Jumat (3/6/20005).BAT berencana mengalihkan produksi 6,2 miliar batang rokoknya di pabrik Southampton, Inggris ke Singapura dan Korea Selatan mulai November 2005 hingga pertengahan 2006. BAT menyatakan tengah mereview tingkat produksinya di Southampton di masa depan. Penilaian itu termasuk mengkaji sejumlah opsi untuk mencari produksi pengganti yang lebih menarik atau pun meneruskan kegiatan operasi pada volume yang lebih rendah.Ketua Dewan Kota Southampton, Adrian Vinson mengatakan, pihaknya akan menggelar pertemuan mendadak dengan BAT untuk membahas situasi ini. "Saya sangat memprihatinkan setiap PHK di kota ini. Tidak terbantahkan lagi bahwa BAT memiliki masalah pada bisnisnya. Namun ini adalah pukulan yang serius bagi perusahaan di Southampton," tegasnya.Pemindahan pabrik itu mencemaskan sekitar 660 pekerjanya. Serikat pekerja bahkan menggambarkan masalah itu sebagai pukulan yang mematikan, dan bersumpah untuk melawan PHK di pabrik Southampton. Pabrik rokok BAT di Southampton ini memroduksi rokok dengan merek Dunhill, Rothmans, Lucky Strike, dan memiliki pekerja hampir separuh dari semua tenaga kerja BAT di Inggris yang mencapai 1.200. Ketua Serikat pekerja Amicus, Iain MacLean mengatakan, pihaknya akan melakukan pembicaraan dengan BAT. "Ini merupakan tendangan yang kuat untuk gigi para pekerja BAT yang setia dan menimbulkan pukulan mematikan untuk perekonomian lokal. Mereka telah dibayar dengan baik dan memiliki pekerjaan dengan kemampuan yang tinggi, dimana Southampton dapat kehilangan," kata Iain. Pangsa pasar rokok Asia memang sangat menggiurkan. Philip Morris bahkan juga tergiur oleh besarnya pasar di Asia dengan membeli 98 persen saham PT HM Sampoerna Tbk, dengan nilai pembelian mencapai US$ miliar. Langkah itu ditempuh Philip Morris sebagai batu pijakan untuk menembus pasar rokok terbesar di Asia yakni Cina. Lima besar pangsa pasar rokok terbesar di dunia setelah Cina adalah AS, Rusia, Jepang dan Indonesia. Selain itu, pangsa pasar rokok di AS dan Eropa juga kian terdesak seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya rokok. Volume penjualan produsen rokok di dua kawasan itu menunjukkan angka yang tidak terlalu menggembiarakan. Seperti misalnya penjualan domestik Philip Morris pada tahun 2004 hanya tumbuh 3 persen menjadi US$ 17,51 miliar, sementara penjualan internasionalnya justru melonjak hingga 18 persen menjadi US$ 39,54 miliar.
(qom/)











































