Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Nicky Hogan mengatakan, dalam 10 tahun terakhir ada kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai 200%. Namun dari angka rata-rata nilai saham itu, sekitar 70% dari saham yang ada sekitar 500an emiten harganya mengalami kenaikan, sisanya turun bahkan ada yang pailit.
"Lalu 30% ternyata harganya mengalami penurunan, bahkan ada yang pailit, investaisnya jadi nol, ya saya bicara apa adanya," tuturnya dalam acara Financial Clinic with OJK 'Menjadi Investor Andal di Pasar Modal Indonesia' di The Ice Palace Lotte Shopping Avenue, Jakarta, Senin (27/11/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya yakin saham yang bertahan dalam waktu 10 tahun terakhir itu perusahaan yang kita kenal produknya. Banyak produk yang sudah kita pakai sejak kecil. Saya juga yakin emiten itu masih bisa percaya 10-30 tahun ke depan," imbuhnya.
Menurut Nicky, investasi di instrumen yang tetap sangat dibutuhkan. Sebab jika uang tidak diinvestasikan maka nilainya akan susut.
"Beberapa puluh tahun lalu, waktu kuliah uang pangkal Rp 2 jutaan. Tapi sekarang uang itu tidak cukup bayar uang sekolah bulanan anak saya, itu namanya inflasi," tukasnya.
Sayangnya, kata Nicky, dalam 10 tahun terakhir pasar modal Indonesia 2/3nya merupakan investor asing. Artinya kenaikan 200% itu kebanyakan dinikmati oleh investor asing. Untuk itu diharapkan masyarakat mulai sadar pentingnya investasi di pasar modal. (dna/dna)











































