Follow detikFinance
Minggu, 10 Des 2017 18:32 WIB

Adhi Karya Jamin Kondisi Keuangan Masih Sehat

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Foto: Citra Fitri Mardiana Foto: Citra Fitri Mardiana
Jakarta - PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) menjamin kondisi keuangannya masih berada di posisi sangat sehat. Kondisi arus kas dan rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio/DER) juga berada dalam kondisi yang sehat.

Total arus kas untuk aktivitas operasi ADHI saat ini tercatat minus Rp 3 triliun. Total arus kas penerimaan Rp 6,87 triliun sementara total arus kas pengeluaran lebih besar yakni Rp 9,9 triliun.


Direktur Keuangan dan Legal Adhi Karya Haris Gunawan mengungkapkan kondisi tersebut lantaran masih adanya kewajiban utang konstruksi LRT Jabodebek dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) yang belum dibayarkan. KAI akan membayarkan kewajiban sebesar Rp 4,5 triliun kepada ADHI pada Januari 2018 mendatang.

Jika pembayaran ini dilakukan, maka arus kas ADHI menjadi positif karena ada gambahan Rp 4,5 triliun masuk menggantikan biaya konstruksi yang sebumnya sudah ditalangi.

"LRT saya belum dibayar sudah Rp 4,5 triliun. Kalau dibayar udah positif kan. Dari sisi proyek-proyek konvensional atau reguler pembayaran mulai cair semua. Nah LRT biayai lebih dulu maka cashflow negatif Rp 3 triliun, kalau dibayar Rp 4 triliun kita sudah positif," kata Haris saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Minggu (10/12/2017).

Pola bisnis seperti ini, kata Haris, lazim ditemui di perusahaan konstruksi. Pasalnya, kontraktor harus menalangi biaya pembangunan proyek terlebih dahulu agar tidak membengkak dan proyek bisa cepat selesai dibangun.

"Kalau kerja sesuai uang yang ada proyek enggak selesai tepat waktu," tutur Haris.

Di sisi lain, DER ADHI yang berada di kisaran 3,4 kali dibantah oleh perseroan. DER ADHI per September, kata Haris, berada di level 1,38 kali.

"1,38 Interest Bearing Debt per September masih sangat aman," tutur Haris.


Penghitungan DER, lanjut Haris, mempertimbangkan utang yang memiliki bunga alias interest bearing debt. Jika mempertimbangkan ini, maka rasio DER jauh di bawah yang ditetapkan perseroan yaitu 3,5 kali.

Metode penghitungan ini yang dikatakan Haris lazim dilakukan analis dan investor terhadap laporan keuangan perseroan. Sedangkan jika dihitung dari seluruh rasio utang, maka rasionya akan jauh lebih besar.

"Kalau total debt dihitung dibanding equity ya pasti tinggi dong karena total debt kan seluruh utang termasuk utang supplier. Komparasinya piutang saya dong," ujar Haris.

"Kita enggak bisa laporan keuangan bulan berjalan analisis sesuatu ini. Tidak mengkhawatirkan karena tipikal bisnis kita memang seperti itu. Manufaktur jualan langsung cash terima kalau kontraktor enggak," tutup Haris. (ara/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed