Seperti dikutip dari data perdagangan Reuters, Kamis (14/12/2017), sekarang dolar AS bertengger di Rp 13.540, padahal kemarin menembus level Rp 13.600.
"Rupiah pada hari ini dibuka menguat, sudah sesuai dengan ekspektasi sebelumnya bahwa tekanan terhadap rupiah jelang rapat FOMC akan cenderung mereda," ungkap Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede kepada detikFinance.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bank sentral AS memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada 2018 lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya dari rentang 1,7-2,6% menjadi 2,2-2,8%.
Proyeksi Rupiah di 2018
Josua menuturkan, dalam jangka pendek, rupiah berpotensi diperdagangkan di kisaran 13.500-13.575/US$. Pada semester I-2018 tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah cenderung mereda mengingat kenaikan suku bunga AS diperkirakan akan terjadi pada semester II-2018.
"Mempertimbangkan rencana bank sentral AS tersebut, BI diperkirakan akan tetap di level 4,25% mengingat level tersebut masih konsisten dengan target inflasi tahun depan serta menjaga stabilitas rupiah," terangnya.
Nilai tukar masih akan ditopang oleh kondisi keseimbangan eksternal yang cukup sehat dimana defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) diperkirakan sekitar 1,9-2,0% terhadap PDB. Ekspektasi inflasi di kisaran 3,5%.
"Selain itu iklim investasi juga diperkirakan masih tetap solid sehingga akan menopang foreign inflow pada sektor riil dan pasar keuangan pada tahun depan," ujarnya.
(mkj/mkj)











































