Investasi Jepang Diyakini Bakal Meningkat Dua Kali Lipat

Investasi Jepang Diyakini Bakal Meningkat Dua Kali Lipat

- detikFinance
Kamis, 09 Jun 2005 17:33 WIB
Jakarta - Jepang hingga kini masih menduduki posisi investor asing terbesar nomor satu dari 103 negara yang berinvestasi di Indonesia. Total nilainya US$ 37,7 miliar, terdiri atas 1.606 proyek. Investasi Jepang dalam kurun lima tahun ke depan diyakini akan meningkat dua kali lipat.Keyakinan itu disampaikan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Muhammad Luthfi saat membuka seminar tentang investasi Indonesia di Nagoya, Jepang. Seminar digelar sepekan setelah kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Jepang itu merupakan mata rantai dari keikutsertaan Indonesia pada The World Expo 2005 Aichi (Aichi Expo 2005), yang berlangsung sejak 25 Maret hingga 25 September 2005 mendatang. Demikian siaran pers Panitia Paviliun Indonesia World Expo 2005 yang diterima detikcom di Jakarta, Kamis (9/6/2005).Seminar yang dilaksanakan bekerja sama dengan ASEAN-Japan Center dan Nagoya Chamber of Commerce & Industry ini, juga menggelar business meeting yang melibatkan perwakilan beberapa daerah di Indonesia dan Kadin Japan Compartment. Seminar itu juga mendengarkan kisah sukses dari beberapa investor Jepang seperti Toyota Motor, Honda Motor dan Yamaha Corporation. Luthfie menambahkan, meskipun hubungan ekonomi Jepang-Indonesia tergolong lambat pertumbuhannya namun total nilai perdagangan (ekspor dan impor) kedua negara sudah mencapai US$ 21,36 miliar pada tahun 2004. Sedangkan laju pertumbuhan tahunan selama lima tahun terakhir rata-rata 1,90 persen dan telah memberikan surplus neraca perdagangan bagi Indonesia sebesar US$ 10,56 miliar. Data lain yang mendukung keyakinan Luthfi, yakni realisasi penanaman modal asing (PMA) Jepang yang disetujui Indonesia setiap tahunnya. Meski menunjukkan kecenderungan naik turun, selama delapan tahun terakhir (1997-2004) realisasi PMA Jepang telah mencapai US$ 13,44 miliar. "Rencana PMA Jepang yang tertinggi disetujui pada 1997 dengan nilai US$ 5,39 miliar, sedangkan terendah pada 2002 yang hanya mencapai US$ 518,5 juta," kata Luthfi.Luthfi melihat, rencana investasi Jepang tersebut masih jauh dari potensi yang sebenarnya. Karena itu, saat berbicara di depan 150 pengusaha Jepang di seminar, Luthfi menegaskan kembali komitmen pemerintah Indonesia yang sungguh-sungguh hendak memperbaiki iklim investasi. Menteri Perindustrian Andung Nitimiharja, yang juga tampil sebagai pembicara dalam seminar, tak kalah optimistis terhadap pertumbuhan investasi Jepang di Indonesia. Apalagi, pemerintah baru-baru ini telah menetapkan strategi pengembangan industri yang diasumsikan bakal menarik minat investasi, terutama dari Jepang. Strategi tersebut intinya bertumpu pada pengembangan industri dengan pendekatan klaster. Yakni, membangun industri inti berikut industri pendukung dan industri terkaitnya dalam suatu kelompok yang terintegrasi. "Fokus kita adalah pada industri-industri prioritas, yang dipilih atas dasar kemampuan bersaing serta besarnya potensi Indonesia dari sisi bentang wilayah, jumlah penduduk, dan ketersediaan sumber daya alam," kata Andung. Dalam lima tahun ke depan pemerintah akan memfokuskan 10 klaster industri. Yakni: industri makanan dan minuman, pengolahan hasil laut, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, kelapa sawit, barang kayu, karet dan barang karet, pulp dan kertas, mesin dan peralatan listrik, serta petrokimia. Di samping itu, juga akan dikembangkan 22 klaster industri terkait dan penunjang yakni industri otomotif dan elektronika konsumen. (mar/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads