Follow detikFinance
Senin, 08 Jan 2018 15:01 WIB

PLN akan Tarik Utang Lagi Lewat 'Setrum Bond'

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Fadhly Fauzi Rachman Foto: Fadhly Fauzi Rachman
Jakarta - PT PLN (Persero) berencana menerbitkan surat utang tahun ini. Penerbitan obligasi ini dilakukan karena adanya kemungkinan keterbatasan pendanaan dari dalam negeri.

Menurut Direktur Utama PLN, Sofyan Basir, dana hasil penerbitan surat utang ini akan digunakan untuk investasi dan biaya operasional perusahaan. Mantan Dirut BRI ini menjelaskan, saat ini PLN telah memiliki komitmen dengan pihak luar untuk mata uang dolar AS, tinggal mencari surat utang dalam bentuk rupiah.

"Nah ini rupiah yang sedang kita cari. Apalagi keterbatasan di dalam negeri itu pasti ada, dari perbankan nasional meski kita punya plafond. Tapi kita mau coba bagaimana penerimaan dari pihak luar dalam rupiah. Karena size kita kan besar," ujar Sofyan di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (8/1/2018).

Sofyan menjelaskan, saat ini sedang dilakukan persiapan penerbitan surat utang ini, dan ditargetkan kuartal II bisa diterbitkan. Penerbitan surat utang ini bertujuan untuk investasi dan sedikit biaya operasional perusahaan.

Penerbitan surat utang dalam denominasi rupiah ini mengikuti jejak Komodo Bond yang diterbitkan oleh PT Jasa Marga Tbk (JSMR).

"Ya kita namanya Cacing Bond kek, Nasi Goreng kek atau Setrum Bond kek supaya namanya enggak komodo lagi, mudah-mudahan sebelum bulan Juni tahun inilah," ujar dia.

PLN akan menerbitkan sekitar US$ 1 hingga US$ 2 miliar. Jumlah tersebut sesuai dengan kebutuhan PLN, Sofyan menyebutkan aset PLN saat ini sekitar Rp 1.300 triliun dengan nilai proyek selama 5 tahun Rp 2.000 triliun.

"Jadi kebutuhannya memang besar, kalau Rp 2-5 triliun kan cukup dari bank lokal," imbuh dia.

Prediksi Laba Turun

Laba bersih PLN periode 2017 diprediksi tidak lebih besar dibandingkan laba bersih 2016.

Sofyan menjelaskan perolehan laba bersih 2017 lebih rendah karena harga energi primer yang mengalami kenaikkan, sehingga menggerus laba bersih perseroan.

"Nggak bisa (lebih tinggi dari tahun lalu), energi primer kan naik semuanya. Dahsyat naiknya seperti batu bara, ICP semua naik. Untuk operasional sih kita sudah efisien," kata Sofyan.

Dia menjelaskan kenaikan harga ini karena meningkatnya energi primer yang naik sangat drastis. Saat ini, menurut Sofyan, PLN sedang meminta domestic market obligation (DMO) untuk batu bara.

"Kami ingin segera bisa melaksanakan. Bukan holding ya, tapi harganya. Karena kalau tidak kami tidak bisa menahan ke depan untuk penyesuaian harga. Mau tidak mau sisi harga produksi tidak boleh naik ya pakai DMO," ujar dia.

Sofyan menjelaskan, penjualan memang lebih besar tahun 2017. Namun memang laba bersih tergerus akibat kenaikan harga energi primer.

Dari data laporan keuangan, laba bersih PLN pada 2016 tercatat 10,5 triliun turun 32,6% dibandingkan periode 2015 sebesar Rp 15,6 triliun. Penurunan laba tersebut karena turunnya harga jual listrik, dari Rp 1.035/kWh di 2015 menjadi Rp 994/kWh di 2016.

Sedangkan untuk periode Januari-September 2017, PLN membukukan laba Rp 3,06 triliun atau turun jika dibandingkan periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp 10,98 triliun. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed