Analis First Asia Capital, David Sutyanto memandang perilaku pelaku pasar saham di Indonesia memang sedikit berbeda. Mereka cenderung tidak mengkhawatirkan valuasi IHSG yang sudah tinggi.
"Ini risiko kemahalannya baru muncul kalau IHSG-nya mulai turun. Kalau masih naik, IHSG kemahalan jarang ada yang mengkhawatirkan. IHSG sudah mahal stop, tidak seperti itu," tuturnya saat dihubungi detikFinance, Selasa (23/1/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kalau sekarang kalau dibilang risiko kemahalan belum saatnya. Karena asingnya masih positif buy kok. Asing masih jadi imam, kalau tahun lalu kan domestik yang jadi imam, kalau saat ini asing. Mereka punya andil membuat IHSG naik," tuturnya.
David menilai masih besarnya modal asing masuk ke pasar modal lantaran banyaknya lembaga pemeringkat asing yang menaikkan rating Indonesia seperti Fitch Rating, S & P, Moody's.
Para pelaku pasar baru akan mulai memperhatikan valuasi IHSG ketika sudah mulai terkoreksi. Saat itulah psikologis investor domestik mulai mempertimbangkan untuk menahan diri.
David memprediksi jika nanti IHSG terkoreksi lantaran valuasinya yang sudah terlalu tinggi, maka penurunannya hanya sampai 10%. "Jadi tergantung isu yang menyebabkan IHSG turun, apakah kemahalan, kalau kemahalan turun 10% juga sudah murah," tandasnya. (dna/dna)











































