Follow detikFinance
Selasa, 06 Feb 2018 21:36 WIB

Bursa Saham Dunia Anjlok, Ini Kata Gubernur BI Hingga Menkeu

Puti Aini Yasmin, Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Bursa saham sedunia tengah dirundung sentimen negatif sehingga mengalami anjlok secara bersamaan. Hal ini dipicu oleh timbulnya kekhawatiran pasar terkait kenaikan suku bunga The Fed yang bisa lebih cepat.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menilai, hal tersebut merupakan bentuk transisi, dan dan hanya bersifat sementara. Bank Indonesia sudah mengantisipasi jika negara-negara maju data perekonomiannya akan membaik, khususnya Amerika Serikat (AS).

"Kita sudah ikuti di rapat FOMC terakhir disampaikan bahwa ekonomi US tunjukkan perbaikan di investasi, konsumsi, employment-nya. Dan ketika ada member FOMC bahwa di ekonomi yang terus membaik ini bisa membuat US terjadi kenaikan bukan tiga kali tapi bisa empat kali. Itu memang buat tekanan ke mata uang dunia termasuk Indonesia. Tapi secara umum ini suatu kondisi normal. Ada penyesuaian dengan pimpinan The Fed yang baru," kata Agus di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (6/2/2018).

Agus menyebutkan, data perekonomian yang baru dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa waktu lalu menjadi modal untuk mengimbangi tekanan dari menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

"Jadi BI kita juga melihat kondisi yang di negara besar berdampak ke negara-negara berkembang, untuk Indonesia diimbangi dengan hasil atau laporan pertumbuhan ekonomi yang baik, inflasi yang baik, sehingga cukup mengimbangi tekanan dari menguatnya US$. Tapi secara umum ini masih di-range yang kita yakini normal dan kita optimis stabilitas sistem keuangan ke depan akan terjaga," jelas dia.

Agus mengatakan, Bank Indonesia akan terus selalu ada di pasar untuk meyakinkan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga. Nilai tukar dibuka di angka Rp 13.570 per US$, sampai siang rupiah bergerak di level Rp 13.560 per US$ sampai Rp 13.621 per US$.

Namun, Agus Marto mengaku level tersebut belum mengkhawatirkan buat Bank Indonesia.

"Enggak, kita akan jaga volatilitasnya terjaga. Skrng ini kan volatilitasnya ada di kisaran 7% year to date. Dan ini adalah sesuatu atau batas yang wajar. Ke depan BI akan selalu ada di pasar untuk jaga ini," tutup dia.

Terpisah, Meteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pihaknya akan terus memantau kondisi tersebut. Khususnya terhadap apa yang terjadi pada perusahaan di luar negeri.

Sebab, ia menilai perkembangan di Amerika Serikat (AS) menjadi faktor yang bisa memengaruhi kondisi ekonomi di beberapa kawasan.

"Kita akan terus melihat perkembangan dari terutama perusahaan yang di luar negeri. Yang di-trigger pertama oleh perkembangan yang ada di AS. Tentu, dari sisi berbagai macam sentimen yang muncul dan ini kemudian menular kepada bursa-bursa yang di kawasan Eropa dan Asia kita tentu akan melihat ini dengan tetap berfokus pada kehati-hatian," kata dia.

Lebih lanjut, Ani mengatakan bahwa pertama pihaknya akan memperkuat seluruh kebijakan pemerintah. Saat ini, pengutan tersebut telah dilakukan dari sisi makro, yakni dengan bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

"Pertama, seluruh kebijakan pemerintah akan terus diperkuat. Sekarang ini dari sisi makro kami ingin terus menyampaikan bahwa kebijakan fiskal dan moneter dua-duanya dijaga untuk stabilitas perekonomian Indonesia. Dan hari ini kita bekerjasama dengan OJK dan LPS ingin menjaga terus terutama sektor keuangan," sambungnya.

Selain itu, pihaknya juga akan fokus kepada kebijakan-kebijakan yang mampu menjaga pertumbuhan ekonomi. Sebab ia menilai pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV sudah sangat baik.

"Yang kedua, kita tetap akan berfokus pada kebijakan kebijakan yang bisa menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang kemarin di kuartal IV terutama investasi dan ekspor itu sudah sangat positif," tuturnya.

Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa pihaknya akan menjaga dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ia pun berharap dapat peningkatan tersebut dapat meningkat di atas 7%, ekspor di atas 8% dan konsumsi stabil di level 5%.

"Jadi kita akan menjaga mesin pertumbuhan dari investasi agar dia bisa tumbuh lebih tinggi lagi diharapkan bisa diatas 7% growthnya. Ekspor tetap terjaga diatas 8%. Konsumsi bisa dijaga 5% dan lebih serta goverment spending yang dilakukan secara suportif," imbuhnya.

"Mengenai fundamental makro, defisit 2,19% dari fiskal maupun dari moneter, yaitu dari sisi inflasi dan nilai tukar dia memberi suatu keyakinan bahwa perekonomian Indonesia memiliki cukup fleksibilitas sehingga kita bisa mampu menjaga stabilitas itu pada saat kita fokus meningkatkan pertumbuhan ekonomi," tutupnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed