Risiko Saham di BEJ Menurun

Risiko Saham di BEJ Menurun

- detikFinance
Selasa, 21 Jun 2005 16:38 WIB
Jakarta - Selama tiga tahun terakhir tingkat risiko (volatilitas) di pasar saham Bursa Efek Jakarta (BEJ) menurun dari 47 persen di tahun 2002 menjadi 24 persen pada saat ini. Menurunnya tingkat volatilitas tersebut akan meminimalisir kerugian terutama bagi investor jangka panjang. Saham juga dianggap salah satu alternatif untuk mendapatkan tingkat keuntungan (return) yang lebih tinggi ketimbang deposito pada saat ini. Hal tersebut disampaikan Direktur Utama Fortis Investment Eko Pratomo, di sela acara seminar Menemukan Strategi Investasi yang Optimal Bagi Pengelola Dana Pensiun yang berlangsung di Bidakara, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (21/6/2005). "Tingkat risiko volatilitas indeks harga saham di BEJ selama tiga tahun terakhir telah turun cukup drastis. Dari yang tadinya 47 persen di tahun 2002 saat ini menjadi sekitar 24 persen," kata Eko.Peluang investasi di saham juga bisa dilihat dari mulai meningkatnya likuiditas dan estimasi indeks harga saham yang mulai menunjukkan tren meningkat. Menurunnya, standar deviasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEJ dalam tiga tahun terakhir juga telah membuat para pengelola dana pensiun untuk melakukan diversifikasi investasi. "Saat ini banyak pengelola dana pensiun mulai mendiversifikasi portofolio investasi mereka. Dari yang konvensional dengan menggunakan deposito dan SBI ke instrumen yang lebih berisiko seperti obligasi pemerintah maupun korporasi dan saham," kata Eko. Diversifikasi investasi yang tidak lagi terfokus ke deposito tersebut menurut Eko, dilakukan sebagai langkah mendapatkan keuntungan yang lebih besar dengan risiko yang cenderung moderat. Meski demikian masih banyak dana pensiun yang menganggap bahwa investasi di pasar modal memiliki resiko yang relatif tinggi. "Saat ini diperkirakan pengelola dana pensiun yang melakukan diversifikasi investasi ke saham masih di bawah delapan persen sedangkan ke reksadana sekitar lima persen, padahal saham ini bisa menjadi alternatif instrumen yang bagus," kata Eko. Eko menjelaskan, dari hasil eksperimen yang dilakukan Fortis Investment di Eropa dan Indonesia menunjukkan, dengan menempatkan dana pensiun dengan komposisi saham sebesar 29 persen, deposito sebesar 10 persen, dan dua jenis obligasi sebesar 61 persen, bisa menghasilkan return sekitar 11,25 persen dengan standar deviasi sekitar 8 persen. Tingkat keuntungan yang didapat ini akan jauh berbeda bila pengelola dana pensiun menempatkan seluruh dananya di deposito yang hanya memiliki return 10 persen dengan standar deviasi 6,8 persen. Namun demikian Eko mengingatkan, langkah diversifikasi investasi harus tetap disesuaikan dengan kepentingan pengelola dana pensiun. Ada dua faktor yang harus diperhitungkan yakni pertama seberapa jauh time horizon pengelola dana pensiun dan kedua adalah rata-rata umur nasabah dana pensiun. "Intinya saat ini pengelola dana pensiun menghadapi tantangan untuk meningkatkan return mereka dengan cara diversifikasi investasi. Namun demikian ada risiko-reisiko yang harus dicermati karena risiko tersebut bisa dikelola," ujar Eko. (qom/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads