Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 06 Mar 2018 15:14 WIB

Rupiah Anjlok, BKPM: Saatnya Genjot Ekspor

Fadhly F - detikFinance
Foto: Agung Pambudhy Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tren pelemahan sejak pekan lalu. Bahkan dolar AS sempat nyentuh Rp 13.800 pada Kamis pekan lalu.

Kepala Badan Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah ini harus dimanfaatkan dalam mendorong nilai ekspor. Selain itu, kata Thomas, pemerintah juga harus fokus dalam memperhatikan cadangan devisa yang ada.

"Tekanan terhadap nilai tukar tentunya membuat pengembangan sektor-sektor yang prioritasnya ekspor menjadi semakin penting. Karena pasar itu pasti akan melihat cadangan devisa kita, besar kecilnya cadangan devisa kita dan tren pertumbuhan atau penciutan," kata Thomas di kantornya, Jakarta, Selasa (6/3/2018).

Thomas mengatakan pelemahan nilai tukar ini tidak hanya dihadapi oleh rupiah, namun juga mata uang negara-negara lainnya. Oleh sebab itu peningkatan ekspor penting untuk dilakukan.


"Jadi dengan tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang, semua, termasuk ringgit, Thailand baht, tentunya termasuk rupiah, menjadi semakin penting untuk kita serius sekali mengembangkan sektor-sektor yang berorientasi ekspor," katanya.

Lebih lanjut Thomas mengatakan, ekspor yang ditingkatkan tidak melulu sekadar barang, tapi bisa juga ekspor jasa, seperti dalam sektor pariwisata. Sebab, kata Thomas, sektor pariwisata saat ini menjadi salah satu sumber utama penghasil devisa negara.

"Jadi memang menjadi sangat mendesak bahwa kita timbun amunisi dalam bentuk devisi. Jadi kita harus genjot sumber-sumber penghasilan devisa seperti pariwisata dan investasi yang berorientasi ekspor dan menyumbang devisa," tuturnya.

(fdl/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed