Follow detikFinance
Kamis, 08 Mar 2018 12:07 WIB

Ini Jurus Agar Rupiah Kembali Perkasa Terhadap Dolar AS

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Hendra Kusuma (detikFinance) Foto: Hendra Kusuma (detikFinance)
Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS/US$) melemah dan sudah melewati batas asumsi dalam APBN Rp 13.400/US$. Rupiah sempat tembus ke level Rp 13.800/US$ dan saat ini masih berada di kisaran Rp 13.774/US$.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Kepala Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan ada dua cara untuk kembali membuat rupiah kembali perkasa terhadap dolar.

"Meski rupiah under pressure, tetapi kita perlu memperkuat rupiah itu, Bank Sentral akan melakukan operasi moneter tergantung cadangan devisa, kita sebagai ISEI memberikan masukan bagaimana memperkuat rupiah secara fundamental," kata Bambang dalam acara seminar nasional dan serah terima pelaksana ketua umum PP ISEI di kantor Bappenas, Jakarta, Kamis (8/3/2018).


Dua jurus yang dianggap Bambang bisa kembali menguatkan nilai tukar rupiah, pertama, meningkatkan ekspor, terutama di sektor jasa yang mampu menyumbang devisa.

"Kalau lihat neraca pembayaran satu yang penting adalah ekspor, jadi kita bicara dua, kan intinya ini suplai demand, jelas ekspor diperkuat sebagai devisa dalam bentuk dolar, neraca jasa kita juga punya ekspor jasa, dan di situ sektor prioritas pemerintah yang gencar dipromosikan, briefing pada dubes juga sering dibilang, karena akan menghasilkan US$, untuk memperkuat rupiah secara permanen," ujar Bambang.

Devisa yang didapat juga dengan mengembangkan pariwisata dalam negeri. Pariwisata juga bisa menjadi sumber masuknya dolar ke tanah air. Setidaknya pemerintah sudah merencanakan akan membangun 10 destinasi 'Bali baru'.


Kedua, menjaga stabilitas makro ekonomi, sebab sentimen negatif yang selama ini memberikan ketidakpastian bagi ekonomi nasional selalu berasal dari global.

"Di sisi capital account, ada yang sifatnya FDI, jangka pendek perlu diperhatikan portfolio, karena itu berkaitan dengan pasar modal. Sebenarnya capital inflow bisa stabil kita perbaiki stabilitas makro," kata Bambang. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed