99% Laba Sampoerna untuk Dividen

99% Laba Sampoerna untuk Dividen

- detikFinance
Senin, 27 Jun 2005 13:43 WIB
Jakarta - Beruntung sekali Philip Morris. Baru saja menguasai PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), namun sudah ketiban rezeki nomplok dari pembagian dividen yang mencapai 99 persen dari laba bersih tahun 2004.Dalam RUPS yang berlangsung di Graha Niaga, Jl Sudirman, Jakarta, Senin (27/6/2005), disepakati HM Sampoerna akan membagikan dividen tahun buku 2004 hingga 99 persen atau Rp 1,972 triliun dari perolehan laba bersih tahun 2004 yang mencapai Rp 1,991 triliun. Dengan demikian, hampir keseluruhan dividen ini akan jatuh ke tangan Philip Morris yang baru resmi menguasai 98 persen pada 18 Mei 2005. Sementara sisa laba bersih sebesar Rp 19,5 miliar akan digunakan sebagai laba ditahan.Pembagian dividen senilai Rp 450 per saham ini sudah termasuk dividen interim Rp 175 yang dibagikan 9 Desember 2004. Sisa dividen Rp 275 akan dibayarkan 9 Agustus 2005, kepada pemegang saham yang namanya tercatat pada 26 Juli 2005. Dividen tahun buku 2004 ini mengalami kenaikan yang signifikan dibandingkan tahun 2003 yang hanya Rp 74,75 persen dari laba bersih 2003. Besarnya permintaan dividen ini tidak terlepas dari akuisisi PT Philip Morris yang kini menguasai 98 persen saham HM Sampoerna.Tahun 2004, perseroan mencatat pendapatan Rp 15,042 triliun, naik dibandingkan tahun 2003 sebesar Rp 12,992 triliun. Sedangkan pada kuartal I-2005, pendapatan yang diperoleh Rp 4,439 triliun. Direktur HM Sampoerna Angky Camaro menyebutkan, pada kuartal I-2005, pangsa pasar Sampoerna mencapai 21,7 persen, atau berarti menduduki peringkat kedua setelah Gudang Garam (28,3 persen). Pangsa pasar ini menurut Angky meningkat dibandingkan tahun 2004 sebesar 20,8 persen. Untuk produksi rokok Sampoerna pada kuartal I-2005 mencapai 11,3 miliar batang, sementara sepanjang tahun 2004 mencapai 41,4 miliar batang. Dirut HM Sampoerna Martin King mengatakan, perseroan saat ini masih mengandalkan penjualan 3 merek yakni Dji Sam Soe, Sampoerna A Hijau, dan A Mild. Angky menambahkan, perseroan sudah memberlakukan kenaikan harga rokok secara bertahap terkait kenaikan harga jual eceran (HJE) sebesar 15 persen mulai 1 Juli. "Kenaikan harga rokok secara bertahap diharapkan tidak mempengaruhi target penjualan tahun ini," ujar Angky.Martin menambahkan, perseroan tetap akan menjadi perusahaan terbuka meski kepemilikan publik hanya 2 persen. Perseroan dalam waktu dekat juga belum memiliki rencana untuk menambah jumlah saham yang beredar di pasar. "Tapi kami akan lebih fokus pada penjualan produk dan pangsa pasar yang diharapkan terus meningkat. Hal itu diharapkan akan membuat nilai lebih kepada pemegang saham," ujar Martin King. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads