Sampoerna Tak Lagi Primadona BEJ

Sampoerna Tak Lagi Primadona BEJ

- detikFinance
Senin, 27 Jun 2005 15:29 WIB
Jakarta - Saham HM Sampoerna kini tak lagi menjadi primadona bursa saham. Jika dulu setiap pergerakan sahamnya selalu dipantau analis dan pelaku pasar modal, namun kini saham Sampoerna tak lagi dilirik.Minimnya kepemilikan publik di PT HM Sampoerna Tbk yang hanya 2 persen, membuat saham rokok itu tak lagi menjadi penelitian utama oleh analis pasar modal."Sekarang analis banyak yang mereduksi analisa terhadap saham HM Sampoerna, karena kepemilikan publiknya hanya 2 persen, yang hampir-hampir seperti perusahaan tertutup," kata analis Recapital, Bagus Hananto, yang ditemui di sela-sela RUPS Sampoerna di Graha Niaga, Jl Sudirman, Jakarta, Senin (27/6/2005).Bagus menjelaskan, keputusan analis untuk melakukan monitoring yang rutin terhadap suatu saham tidak terlepas dari kepentingan untuk investornya. Akibatnya, semakin banyak jumlah saham yang beredar di pasar, semakin rajin analis melakukan monitoring. Ditambahkan Bagus, saat saham HM Sampoerna masuk kategori blue chip, hampir semua analis melakukan monitoring yang ketat setiap hari terhadap pergerakan saham itu. Bukan hanya karena kepemilikan publik yang mencapai 40 persen, namun juga karena saham Sampoerna sangat likuid. Namun setelah 98 persen saham Sampoerna dikuasai Philip Morris, lanjut Bagus, perhatian analis tidak lagi besar terhadap saham ini. "Kecuali saham di publik bertambah. Yang menjadi concern saat ini karena perusahaan itu adalah masuk PMA," ujar Bagus.Bahkan saat ini banyak perusahaan sekuritas yang merekomendasikan hold untuk saham rokok. Pasalnya, kata Bagus, harga jual eceran (HJE) rokok yang terus meningkat dikhawatirkan akan mengganggu pendapatan perseroan. Akibatnya, investor banyak yang melakukan perpindahan terutama ke saham-saham manufaktur seperti semen. Tak Masuk Perhitungan IHSGSedangkan Dirut BEJ Erry Firmansyah mengatakan, saham Sampoerna selain tidak dimasukkan ke dalam perhitungan indeks LQ 45, juga sudah dikeluarkan dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). "Waktunya hampir bersamaan. Alasannya, karena saham yang beredar sangat sedikit, sementara saham ini pengaruhnya sangat besar ke pergerakan indeks," ujar Erry.Erry mengatakan, saham Sampoerna bisa kembali dimasukkan dalam perhitungan indeks jika Philip Morris bersedia menambah jumlah saham yang beredar di pasar. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads