Follow detikFinance
Selasa, 20 Mar 2018 10:51 WIB

Dolar AS Masih Perkasa, Harga Barang Jelang Puasa Siap Naik

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Ari Saputra Foto: Ari Saputra
Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih terus mengalami tekanan. Pelemahan nilai tukar rupiah tersebut sudah tiga minggu nilai tukar dolar tercatat di atas Rp 13.700-an.

Kepala Riset Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih menjelaskan, dengan harga dolar yang tinggi maka akan memengaruhi harga-harga menjelang puasa dan Lebaran.

"Yang harus diperhatikan adalah sebentar lagi puasa dan Lebaran, impor pasti akan tinggi. Bulan puasa harus ada kurma kan? Sajadah kan? Harus impor dari Timur Tengah dan India. Impor daging juga akan masuk, ini pasti akan memberatkan," kata Lana saat dihubungi detikFinance, Selasa (20/3/2018).



Dia menjelaskan, harga bahan baku yang impor harganya akan terkerek naik karena penguatan dolar ini. Dia mengkhawatirkan jika harga terlampau tinggi maka akan memengaruhi pola konsumsi masyarakat, padahal seharusnya bulan puasa yang masuk kuartal II tahun ini bisa menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi.

"Kalau harganya mahal sekali, takutnya nggak ada yang mau beli. Nah ini kan akan ganggu konsumsi bisa pengaruh ke potensi pertumbuhan ekonomi kuartal II," ujar Lana.

Lana mengungkapkan, sebenarnya harga barang di luar negeri tidak mengalami kenaikan, namun setelah masuk ke Indonesia naik akibat konversi ke nilai tukar. Menurut dia ini akan membebani masyarakat dan dikhawatirkan tidak mencapai pertumbuhan ekonomi akibat konsumsi rumah tangga yang turun.

Samuel Aset Manajemen memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 5,08% hingga 5,15%. "Sektor riilnya memang harus diperhatikan untuk mendorong pertumbuhan. Jika kuartal II tidak tembus 5,3% sulit untuk capai target pemerintah 5,4%," imbuh dia.

(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed