Redemption Reksa Dana Justru Ciptakan Investor yang Rasional
Jumat, 01 Jul 2005 12:43 WIB
Jakarta - Aksi penarikan reksa dana (redemption) besar-besaran pada Maret-April 2005, justru memberi dampak yang positif karena telah menciptakan investor yang rasional di industri tersebut. Investor rasional inilah yang diharapkan bisa membantu pengembangan dan stabilitas pasar reksa dana. "Redemption> itu tidak masalah, justru ini bisa melihat mana investor yang benar-benar rasional," kata Kabiro Pengelolaan Investasi dan Riset Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) Freddy Saragih, Jumat (1/7/2005). Ke depan, reksa dana harus bisa menjadi penahan kestabilan ekonomi moneter. Freddy menambahkan, idealnya seperti di negara-negara yang sudah maju dalam mengelola reksa dananya, industri ini sudah menjadi tolok ukur pertumbuhan ekonomi. "Kalau investornya tidak rasional reksa dana akan terus bergejolak dan ini merugikan karena mengganggu kestabilan moneter," katanya. Diakui, sampai saat ini investor masih ada yang melakukan redemption, namun jumlahnya masih dalam batas yang wajar. "Kalau istilah di pasar modal sekarang ini lagi konsolidasi dulu, jadi investor belum banyak yang investasi lagi," ujarnya. Data per akhir Juni 2005, total nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana sekitar Rp 84 hingga Rp 85 triliun. Nilai NAB reksa dana sempat turun hingga Rp 73 triliun terutama pada periode Maret-April 2005. Padahal pada awal tahun 2005 NAB reksa dana sempat mencapai Rp 100 triliun lebih. Penurunan NAB reksa dana pada saat itu dipicu oleh menurunnya harga obligasi akibat kenaikan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang trennya cenderung meningkat. Fund Hub Mengenai pembentukan fund hub (sentralisasi data reksa dana), menurut Freddy, hal tersebut masih menunggu kesepakatan antara PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dengan para bank kustodian. "Fund hub masih menunggu kesepakatan KSEI dengan bak kustodian ini masalah bisnis saja," ujar Freddy. Fund hub ini nantinya akan mengintegrasikan agen penjualan, bank kustodian, dan nasabah sehingga transaksi akan lebih efektif, efisien, dan transparan karena sistemnya sudah on line. Selama ini dengan sistem manual, ada rente yang cukup panjang antara saat pembelian sampai investor mendapat kepastian berapa unit penyertaan yang diperoleh. Hal ini karena agen penjualan harus mengirimkan formulir pembelian ke manajer investasi untuk kemudian diteruskan ke bank kustodian.
(qom/)











































