Pemerintah Tidak akan Nasionalisasi Aset PMA

Pemerintah Tidak akan Nasionalisasi Aset PMA

- detikFinance
Selasa, 05 Jul 2005 14:38 WIB
Jakarta - Pemerintah menjamin tidak akan ada nasionalisasi terhadap perusahaan penanaman modal asing (PMA) di Indonesia. Kalaupun ada, maka proses nasionalisasi itu akan melalui proses pembayaran atau kompensasi sesuai dengan harga pasar."Kita jamin tidak akan ada nasionalisasi," kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) M Luthfi usai seminar tentang investasi di Hotel Mulia Senayan, Jl Asia Afrika, Jakarta, Selasa (5/7/2005).Tidak adanya nasionalisasi PMA adalah salah satu poin penting yang ada di dalam draft RUU Investasi. Rencananya, draft RUU Investasi akan diselesaikan oleh BKPM akhir bulan ini. Poin penting lainya adalah penyederhanaan perizinan. Selain itu, pemerintah juga menjamin repatriasi dari keuntungan PMA. "Jadi mereka (investor asing-red) boleh mengambil keuntungan dari apa yang mereka investasikan di Indonesia," kata Luthfi.Ditegaskannya, dengan poin-poin penting itu, diharapkan Indonesia semakin bisa berkompetisi dengan negara lain sebagai negara tujuan investasi. Saat ini substansi draf RUU Investasi masih terus disempurnakan. "Akhir bulan ini draf final sudah bisa diselesaikan dan akan segera diajukan ke presiden," kata Luthfi.Menyangkut insentif bagi investor asing, Luthfi menjelaskan, pemerintah masih terus membicarakan hal itu karena insentif tidak hanya menyangkut masalah fiskal saja. "Ini yang akan kita bicarakan agar kita bisa berkompetisi dengan negara lain seperti Malaysia, Singapura dan Thailand. Kita sekarang mau masuk di liga utama persaingan foreign direct investment," ujar Luthfi.Investasi CinaLuthfi juga menyebutkan, saat ini Cina telah menginvestasikan modalnya di Indonesia US$ 1,7 miliar yang meliputi, 10 hingga 15 industri pada semester 1 tahun 2005. Investasi itu sudah termasuk di bidang migas. "Kalau tidak termasuk migas nilai investasi sampai kuartal I 2005 mencapai US$ 60 juta," ujarnya.Menyangkut relokasi pabrik mebel Cina ke Indonesia, hal itu masih rencana karena belum ada hal kongkret yang masuk ke BKPM, tapi untuk industri permebelan Indonesia sangat kompetitif. "Soalnya industri pembantu di sektor permebelan sangat baik," tambah Luthfi. Saat dia ke Cina, sangat memungkinkan dikembangkan investasi baik ke Cina maupun ke Indonesia di masa mendatang. "Teknologi Cina sangat lebih baik serta mempunyai harga yang kompetitif," tukas Luthfi. (mar/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads