Semester I-2005
Laba BES Lampaui Target
Selasa, 05 Jul 2005 17:53 WIB
Jakarta - Bursa Efek Surabaya (BES) selama semester satu 2005 telah berhasil membukukan laba Rp 230 juta, dari target semula rugi Rp 22 juta. "Baru sampai Mei saja keuntungan BES sudah Rp 230 juta, ini jauh di atas target yang diperkirakan semester satu rugi Rp 22 juta," kata Direktur BES Guntur Pasaribu, Selasa (5/7/2005). Pencapaian laba tersebut, terutama dari fee pencatatan dan perdagangan obligasi baik surat utang negara (SUN) maupun obligasi korporasi. Setelah itu disusul oleh kontribusi perdagangan saham dan derivatif. Membaiknya kinerja BES semester ini diprediksi akan berlanjut pada semester dua 2005. "Kita optimis untuk kinerja semester dua. Selama obligasi masih memberikan yield (imbal hasil) yang lebih tinggi dari deposito maka pasar obligasi masih menjadi andalan," ujar Guntur. Selama semester satu 2005 dari 19 emiten senilai Rp 11,4 triliun, jumlah obligasi korporasi yang telah dicatatkan di BES sebanyak 13 emiten dengan nilai Rp 6,8 triliun. Sedangkan sampai akhir tahun 2005 nilai obligasi korporasi ditargetkan sebesar Rp 15 triliun. Jumlah obligasi korporasi semester satu tersebut termasuk obligasi syariah sebesar Rp 525 miliar. Terdiri dari obligasi syariah PT Apexindo Pratama Duta Tbk sebesar Rp 240 miliar dan obligasi syariah PT Indosat Tbk sebesar Rp 285 miliar. Untuk semester dua, Guntur optimistis target pencatatan obligasi korporasi sebesar Rp 15 triliun tercapai. Pasalnya, ada sejumlah emiten berkapitalisasi besar berencana menerbitkan emisi obligasi konvensional dan obligasi syariah. Mengenai tren kenaikan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang cenderung meningkat, Guntur menilai kondisi itu belum terlalu berpengaruh ke pasar obligasi. Menurutnya, selama spread obligasi masih lebih tinggi dibandingkan deposito maka investor tetap akan berinvestasi di pasar obligasi. "Saat ini untuk obligasi korporasi berjangka waktu lima tahun yield-nya sebesar 13 sampai 13,5 persen. Sehingga kalau SBI masih 8 sampai 8,5 persen belum akan berpengaruh karena spread obligasi masih lebih tinggi," katanya. Namun, jika suku bunga SBI sudah mencapai 10 persen, menurut Guntur, baru pasar obligasi akan terguncang. Obligasi Ritel Sejak diluncurkan pada 16 Juni 2005, transaksi obligasi ritel di BES sampai saat ini baru sebesar Rp 5-10 miliar. Transaksi obligasi ritel itu diikuti oleh 18 Anggota Bursa (AB) dengan memperdagangkan 81 seri obligasi dari 42 emiten. Menurut Guntur, dari total obligasi korporasi yang tercatat di BES sebesar Rp 61,3 triliun, sejumlah Rp 41 triliun sudah diperdagangkan untuk obligasi ritel melalui fixed income trading system (FITS). Minimnya minat investor terhadap obligasi ritel tersebut karena kurangnya sosialisasi yang dilakukan BES. Maka itu untuk tahun 2005, BES belum berani menargetkan jumlah investor obligasi ritel. "Tahun ini target kita sosialisasi dulu," kata Guntur. BES mulai mensosialisasi obligasi ritel tahap satu pada 6-7 Juli 2005 yang akan diikuti oleh AB. Selanjutnya sosialisasi juga akan dilakukan di beberapa kota dengan target dana pensiun dan investor potensial. "Hasil sosialisasi ini baru akan terlihat pada tahun 2006. Jadi pada tahun depan BES baru berani menargetkan pendapatan dari obligasi ritel," kata Guntur.
(qom/)











































