Reksa Dana Diprediksi Kembali Marak pada Kuartal III

Reksa Dana Diprediksi Kembali Marak pada Kuartal III

- detikFinance
Rabu, 06 Jul 2005 14:59 WIB
Jakarta - Setelah dihantam aksi redemption (pencairan dana) besar-besaran pada bulan Maret-April 2005, kondisi pasar reksa dana diprediksi kembali marak pada kuartal III tahun ini. Selain karena faktor makro yang diperkirakan membaik, edukasi manajer investasi (MI) kepada investor bisa kembali menarik minat investor. "Sekarang pasar reksa dana relatif stabil dengan jumlah Nilai Aktiva Bersih (NAB) sekitar Rp 83-84 triliun. Memang belum banyak dana segar yang masuk, tapi kuartal III diperkirakan mulai kembali ramai," kata Presiden Direktur PT Fortis Investments Eko Pratomo di Jakarta, Rabu (6/7/2005).Data Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) per akhir Juni 2005, total Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana sekitar Rp 84 miliar. Nilai NAB reksa dana sempat turun hingga Rp 73 triliun terutama pada periode Maret-April 2005. Padahal pada awal tahun 2005, NAB reksa dana sempat mencapai Rp 100 triliun lebih. Penurunan NAB reksa dana pada saat itu dipicu oleh menurunnya harga obligasi akibat kenaikan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang trennya cenderung meningkat. Selain juga karena penerapan harga pasar wajar (marked to market). Meskipun redemption mulai berkurang, diakui belum banyak dana segar yang kembali masuk ke reksa dana. Namun investor yang tidak ikut redemption saat itu diharapkan bisa menjadi panutan bagi investor baru yang ingin berinvestasi. "Kita berharap, orang yang tidak ikut redemption pada Maret-April lalu, yang saat ini justru memperoleh untung bisa mendapat pelajaran, fluktuasi reksa dana adalah hal yang wajar," ujar Eko. Sebaliknya, investor yang melakukan redemption waktu itu, saat ini juga bisa belajar karena melihat NAB yang dulu turun ternyata sekarang sudah naik lagi. "Memberi edukasi kepada mereka kalau investasi reksa dana tetap memiliki risiko dan naik turunnya NAB adalah hal yang wajar," katanya.Menurut Eko, untuk bisa menarik kembali investor ke reksa dana diperlukan edukasi yang terus-menerus, sehingga investor tetap ingat investasi ini ada risikonya. Investor juga disarankan melakukan diversifikasi investasi, tidak hanya di satu tempat untuk meminimalisir risiko. "Tetapi yang namanya deposito itu harus ada, kemudian saham, obligasi sehingga risiko investasi bisa dikurangi," ujar Eko.Yang terbaik dalam investasi di reksa dana menurut Eko adalah, investor harus mengetahui tujuan investasinya. Apakah untuk jangka panjang seperti dana sekolah dan untuk pensiun atau kebutuhan jangka pendek untuk keperluan yang lebih cepat.Jika tujuannya untuk jangka panjang, investor disarankan menaruh dananya di reksa dana pendapatan tetap (fixed income) dan saham. Hal ini untuk menghindari fluktuasi makro seperti naik turunnya rupiah dan inflasi. Sebaliknya reksa dana jangka pendek seperti pasar uang cocok untuk kebutuhan jangka pendek karena risikonya paling rendah. (mar/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads