Bom di London, Pasar Uang dan Saham Eropa Ikut Terguncang

Bom di London, Pasar Uang dan Saham Eropa Ikut Terguncang

- detikFinance
Jumat, 08 Jul 2005 10:30 WIB
Jakarta - Bom yang mengguncang London, ikut pula mengguncang bursa Eropa dan melemahkan mata uang Inggris, poundsterling. Namun para pemimpin keuangan tidak mengambil keputusan yang drastis untuk menahan guncangan pasar tersebut.Para pemimpin keuangan dunia hanya menyerukan para pelaku pasar untuk tetap tenang menanggapi peristiwa tersebut.Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Jean-Claude Trichet mengatakan, ECB ataupun Bank Sentral Inggris tidak perlu mengambil langkah khusus untuk menangani peristiwa yang telah menewaskan sekitar 40 orang dan menciderai 700 orang lainnya ini. Trichet mengatakan, dia telah menghubungi Gubernur Bank Sentral Inggris Mervyn King dan Gubernur Bank Sentral AS Alan Greenspan terkait langkah yang harus diambil menanggapi serangan bom tersebut."Pada tahap ini, kami tidak memperoleh informasi yang dapat menyerukan kita agar mengambil sebuah langkah khusus. Namun jika ada sebuah kasus, kami akan melakukannya pada saat itu juga," kata Trichet seperti dikutip AFP, Jumat (8/7/2005). Saat serangan 11 September 2001 di AS, Federal Reserve, ECB dan beberapa bank sentral utama ikut memompa likuiditas ke pasar dan seminggu kemudian memotong tingkat suku bunga dalam rangka meningkatkan kepercayaan.Kedua bank sentral ini dalam keputusan terakhirnya tetap mempertahankan tingkat suku bunganya meski ada peristiwa bom di London, yang merupakan salah satu pusat perdagangan di Eropa. Namun kedua bank sentral ini menegaskan akan selalu siap mengintervensi jika diperlukan. "Kami tidak semestinya membiarkan situasi ini di luar kendali dengan mengambil langkah yang keliru atau panik," kata Menteri Keuangan Jerman Hans Eichel. Setelah peristiwa pengeboman yang terjadi pada jam sibuk ini, saham-saham di bursa Eropa langsung anjlok. Poundsterling juga merosot terhadap mata uang utama dunia. Sementara harga minyak juga ikut jungkir balik setelah mencapai rekor tertingginya. Para pialang cemas peristiwa bom ini akan mengganggu pertumbuhan dunia dan menekan kembali industri penerbangan. Namun pada akhir perdagangan Kamis 7 Juli di New York, harga minyak hanya turun 55 sen menjadi US$ 60,73 per barel akibat masih adanya kecemasan badai di Teluk Meksiko. Menteri Keuangan AS John Snow mengatakan, pihaknya terus memonitor pasar dunia setelah peristiwa bom di London tersebut.Di London, Indeks FTSE 100 turun 1,38 persen ke level 5.158,3 poin, DAX 30 Frankfurt turun 1,85 persen ke level 4.530,18 poin, CAC 40 Paris turun 1,39 persen ke level 4.220,62 poin.Saham-saham industri pariwisata mencatat penurunan yang terbesar. Saham lainnya yang juga anjlok adalah British Airways, cruise-ship group Carnival, Grup Hotel Hilton dan Hotel Intercontinental.Sementara Wall Street sempat terguncang akibat peristiwa tersebut, namun akhirnya ditutup menguat. Indeks Dow Jones setelah sempat turun lebih dari 103 poin dalam tiga jam pertama perdagangannya, akhirnya mampu menguat hingga 0,31 persen ke level 10.302,29.Poundsterling juga melemah tajam meski Bank Sentral Inggris tetap mempertahankan tingkat suku bunganya di level 4,75 persen dalam 11 bulan terakhir. Poundstersling melemah hingga level 1,7402 per dolar, dari posisi sebelumnya 1,7532 per dolar. Level tersebut merupakan yang terendah sejak Desember 2003, saat poundsterling berada di level 1,7431 per dolar.Sementara euro cukup stabil di level 1,1947 dolar, dibandingkan level sebelumnya 1,1930 dolars. Bank Sentral Eropa pada Kamis, 7 Juli memutuskan tingkat suku bunganya tetap di level 2 persen. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads