Follow detikFinance
Jumat, 11 Mei 2018 19:36 WIB

Ini Hasil Pertemuan Sri Mulyani dan Broker Surat Utang Negara

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati hari ini menggelar pertemuan terkait surat berharga negara di Gedung Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta. Pertemuan tersebut dihadiri oleh lebih dari 40 institusi keuangan mulai dari analis, direksi bank, lembaga keuangan non bank hingga dealer surat utang alias broker.

Dalam pertemuan tersebut, dia memberikan informasi perkembangan ekonomi terkini Indonesia.

"Lebih dari 40 institusi saya undang tujuannya memberikan update perkembangan ekonomi terkini di sektor keuangan, capital market dan surat berharga. Ini untuk memberikan keyakinan dan untuk menjaga stabilitas ekonomi," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers di Gedung Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jumat (11/5/2018).


Sri Mulyani menjelaskan pelaku pasar tersebut dalam acara memberikan masukan dan pandangan terkait perekonomian. Dia menyebut, saat ini pelaku usaha menyampaikan bahwa seluruh gejolak yang terjadi saat ini murni karena kondisi eksternal di luar Indonesia.

"Jadi sebetulnya mengenai ekonomi Indonesia sendiri tidak ada yang dijadikan sebagai pemicu. Mereka masih optimis terhadap kebijakan pemerintah dan kinerja ekonomi nasional," ujar dia.

Selain itu, peserta rapat juga menanyakan kepada BI, OJK, Kemenkeu dan LPS kebijakan apa saja dan koordinasi seperti apa yang akan diambil untuk menyikapi kondisi seperti ini. Terutama dalam situasi jangka pendek.

Kemudian, dealer bonds juga menanyakan bagaimana outlook harga minyak, subsidi dan outlook anggaran pendapatan belanja negara (APBN) hingga defisit.

"Namun kita tetap lakukan kajian terhadap harga minyak, terutama dikaitkan dengan subsidi dan dengan neraca Pertamina dan PLN yang saat ini sedang dirumuskan bersama Menteri ESDM dan Menteri BUMN," jelas dia.


Gubernur BI Agus Martowardojo menambahkan, peserta diskusi tersebut sependapat bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih dalam kondisi baik. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2018 5,06% tertinggi di pola musiman pertama sejak 2015.

"Ini menunjukkan perbaikan secara bertahap. Nah di dalam kita sama-sama sepaham bahwa yang ada saat ini tantangan dari eksternal seperti peningkatan suku bunga AS, naiknya harga minyak dan menguatnya risiko geopolitik seperti AS dan China," imbuh dia. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed