Follow detikFinance
Selasa, 15 Mei 2018 16:15 WIB

Dampak Bom dan Terorisme Bagi Pasar Saham

Ellen May - detikFinance
Foto: Ilustrasi oleh Mindra Purnomo Foto: Ilustrasi oleh Mindra Purnomo
Jakarta - Hari Minggu, tepatnya 11 Mei 2018 masyarakat dihebohkan dengan aksi terorisme yang terjadi di 3 gereja di Surabaya. Malam harinya, di hari yang sama, terjadi pula aksi bom bunuh diri susulan di salah satu rumah susun di Sidoarjo.

Keesokan harinya, 12 Mei 2018, masih terjadi aksi bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya. Suasana pun cukup mencekam, terutama bagi masyarakat di Jawa Timur.

Indonesia kembali berduka. Kami tidak takut! Demikian seruan dari berbagai kalangan masyarakat menghadapi aksi terorisme ini. Bagaimana dengan pasar saham? Apakah aksi terorisme ini bisa berdampak fatal bagi pasar saham di Indonesia? Bagaimana dengan IHSG dan saham-saham di Indonesia? Bagaimana kita seharusnya merespon pasar ketika terjadi aksi bom dan terorisme seperti ini?

Yuk kita lihat bersama histori aksi terorisme di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir dan juga kaitannya dengan pergerakan IHSG. Tercatat ada beberapa kejadian pengeboman dan terorisme yang terjadi sejak beberapa tahun yang lalu.

1. Bom Bali I 12 Desember 2002 dan Bom Bali II 1 Oktober 2005 12 Desember 2002.

Monumen Bom Bali Monumen Bom Bali Foto: Lamhot Aritonang

Pengeboman di tiga tempat saat itu mengakibatkan 192 orang meninggal. Selain itu, ledakan juga mengakibatkan 422 fasilitas publik rusak.

Sehari setelah kejadian malam itu, IHSG dibuka pada level 393.86 dan ditutup pada level 391.22 atau melemah tipis -0.67%.

Beberapa tahun kemudian, 1 Oktober 2005 kembali terjadi aksi terorisme di bali atau yang seringkali disebut bom bali II. Aksi terorisme kala itu menewaskan 23 orang.

Pada 3 Oktober 2005, setelah kejadian itu IHSG dibuka di bawah level penutupan hari bursa berikutnya yakni pada level 1055.15 dan berhasil ditutup menguat 2.67% ke level 1083.41. Dapat dilihat dari pergerakan IHSG bahwa pasar tidak merespon kejadian ini sebagai sentiment yang negatif.

2. Bom Sarinah Thamrin 14 Januari 2016

Ilustrasi Bom SarinahIlustrasi Bom Sarinah Foto: Ilustrasi oleh Andhika Akbarayansyah

Aksi pengeboman terjadi di Sarinah Thamrin, diawali dengan ledakan bom di gerai Starbucks di Sarindah dan kemudian terjadi ledakan kedua di pos polisi gedung Sarinah Thamrin. Hingga siang hari, terjadi baku tembak antara polisi dan teroris di daerah tersebut.

Hari itu IHSG dibuka pada level 4492.78 turun dibandingkan dengan angka penutupan kemarin dan melemah ke level 4456.74 Namun saat itu akhirnya IHSG berhasil ditutup di level 4513,18 menguat 0.45% dibandingkan level pembukaannya.

3. Aksi Terorisme di Mapolres Solo 5 Juli 2016

Dampak Bom dan Terorisme bagi Pasar SahamFoto: Ilustrasi oleh Mindra Purnomo

Pagi hari saat itu seseorang memaksa masuk ke Mapolres Solo, dan meledakkan diri. Aksi pengeboman saat itu menewaskan pelaku dan 1 anggota kepolisian mengalami luka-luka.

Kejadian itu terjadi saat cuti bersama Lebaran tahun 2016. Beberapa hari kemudian di tanggal 11 Juli 2016 IHSG dibuka di level 5021.24 menguat dibandingkan dengan penutupan hari bursa sebelumnya dan ditutup menguat pada sore harinya ke level 5069.02, naik 0.95%.

Bahkan, beberapa hari berikutnya IHSG masih melanjutkan tren penguatan didorong oleh sentimen tax amnesty yang diresmikan pada akhir Juni 2016. Dapat disimpulkan bahwa aksi terorisme saat itu tidak berpengaruh terhadap pasar saham.

4. Aksi Terorisme di Gereja Katolik Santo Yosep Medan 26 Agustus 2016

Gereja Santo YosepGereja Santo Yosep Foto: Jefris Santama/detikcom

Seorang pemuda membawa pisau dan ransel dengan percikan api masuk ke gereja dan berlari ke arah pastor. Puluhan jemaat gereja saat itu dengan sigap menangkap pemuda tersebut. Akibat aksi terorisme tersebut pelaku mengalami luka bakar dan pastor mengalami luka ringan.

Hari itu IHSG dibuka pada level 5454.07, sempat melemah ke level 5419.74 akhirnya IHSG ditutup di level 5438.83, melemah -0.27%. Aksi terorisme yang terjadi pada pagi hari itu tidak mempengaruhi pergerakan pasar saham.

5. Aksi Terorisme di Gereja Oikumene Samarinda 13 November 2016

Gereja OikumeneGereja Oikumene Foto: Relawan Pembersih Masjid ikut rapikan Gereja Oikumene Samarinda (Greg Tanari/Facebook)

Minggu 13 November 2016, kembali terjadi aksi pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene Samarinda. Ada 5 orang menjadi korban dan 4 diantaranya adalah balita. Salah satu anak balita yang mengalami luka-luka tewas sehari setelahnya.

Sehari setelahnya, IHSG dibuka melemah pada level 5194.60 sempat melemah hingga level 5073,42 namun akhirnya IHSG pada hari itu ditutup pada level 5115.74, turun -2,22%.

Beberapa hari sebelum kejadian ini IHSG telah mengalami penurunan, namun penurunan IHSG ini lebih diakibatkan oleh situasi politik yang kurang stabil. Dapat disimpulkan bahwa pelemahan IHSG hari itu bukan diakibatkan dari kasus terorisme yang terjadi pada tanggal 13 November 2016.

6. Aksi Terorisme Taman Pandawa Bandung 27 Februari 2017

Sebuah Bom berdaya ledak rendah meledak di kawasan Taman Pandawa Bandung. Tak ada korban jiwa akibat ledakan ini. Selang beberapa waktu, pelaku berhasil dilumpuhkan dan ditangkap oleh petugas polisi.

IHSG pada pagi itu dibuka pada level 5387,82, fluktuasi IHSG di hari itu tidak terlalu besar dan pada sore harinya IHSG ditutup cenderung stagnan pada level 5382.87, melemah tipis -0.05%. Sama seperti kejadian sebelumnya, dapat dilihat bahwa aksi terorisme tidak berdampak terhadap pasar saham.

7. Aksi Terorisme Kampung Melayu 24 Mei 2017

Ilustrasi Penanganan TerorismeIlustrasi Penanganan Terorisme Foto: ANTARA FOTO

Rabu malam, tanggal 24 Mei 2017, terjadi ledakan dari aksi bom bunuh diri di Kampong Melayu. Ledakan tersebut menewaskan tiga orang anggota kepolisian yang sedang menjaga pawai Obor.

Keesokan harinya IHSG dibuka pada level 5713.35, dan tidak terjadi fluktuasi yang besar pada hari itu. Sore harinya, IHSG ditutup ke level 5716.81 atau menguat 0.23% seakan pasar tak menggubris para teroris.

8. Aksi Terorisme di Surabaya 13 dan 14 Mei 2018

Bom SurabayaBom Surabaya Foto: deni

Minggu pagi, 11 Mei 2018, terjadi aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya. Dilaporkan 10 orang tewas dan 41 orang lainnya mengalami luka-luka termasuk 2 anggota kepolisian.

Malam hari setelah kejadian ini, terjadi aksi pengeboman di salah satu rusun di Sidoarjo dan Pagi harinya 14 Mei 2018 terjadi aksi bom bunuh diri dengan kendaraan bermotor di Polrestabes Surabaya.

Keesokan paginya, 14 Mei 2018 IHSG dibuka pada level 5933.40 sempat turun lebih dari 1% hingga menyentuh level 5853.65. Namun di akhir perdagangan, IHSG mulai menguat dan ditutup di level 5947.15, dengan pelemahan kecil -0.17% saja.

Penurunan yang terjadi hari ini lebih cenderung diakibatkan oleh faktor psikologis pasar. Selain itu IHSG saat ini juga masih bergerak dalam tren bearish.

KESIMPULAN :
Beberapa fakta di atas membuktikan bahwa, aksi terorisme tidak berpengaruh signifikan terhadap pergerakan IHSG. Slogan KAMI TIDAK TAKUT, bukan hanya slogan, namun benar-benar dilakukan oleh investor.

Naik dan turunnya harga saham saat itu, ketika bom - bom terjadi, lebih dipengaruhi oleh kondisi perekonomian global dan nasional. Saat ini perekonomian Indonesia memang masih dalam tahap recovery, namun Indonesia menunjukkan pertumbuhan dalam perekonomiannya, ditunjukkan dengan data pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada kuartal I 2018 tercatat sebesar 5.06% yang masih konsisten, dan data inflasi terakhir yakni 3.41% yang masih stabil.

Bagaimana dengan kondisi Indonesia dan pasar saham Indonesia saat ini? Saat ini Indonesia masih memiliki pertumbuhan ekonomi yang sangat baik didorong oleh pembangunan infrastruktur yang menyeluruh tidak hanya di pulau jawa tetapi juga di luar pulau jawa.

Namun, untuk saat ini aliran dana banyak keluar dari Indonesia disebabkan oleh kenaikan suku bunga The Fed sejak bulan Maret lalu. Tapi, kami melihat faktor pelemahan IHSG ini hanya bersifat sementara.

Pasar saham Indonesia memasuki periode bearish/tren turun sejak bulan Maret 2018 dan kondisi ini masih berlanjut hingga saat artikel ini ditulis (15 Mei 2018).

Apa yang sebaiknya dilakukan?
Dalam kondisi pasar bearish, jika Anda seorang long term investor, hal ini merupakan sebuah kesempatan bagus untuk menanti saham-saham berfundamental apik dengan level valuasi/nilai yang terdiskon. Beberapa saham big caps seperti UNVR, dan HMSP boleh mulai dicicil untuk dibeli. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed