Follow detikFinance
Rabu, 16 Mei 2018 14:29 WIB

Defisit Neraca Dagang Lebih Berpengaruh ke IHSG Ketimbang Aksi Teror

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Aksi teror kembali berlanjut. Setelah rentetan kejadian terjadi di Jawa Timur, kini terjadi lagi penyerangan di Mapolda Riau.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga jeda sesi 1 tadi anjlok 1,34% ke posisi 5.760,003, investor asing pun melakukan aksi jual hingga Rp 267,14 miliar. Benarkah itu karena kejadian aksi teror?

Menurut Kepala Riset Ekuator Swarna, David Sutyanto, anjloknya IHSG hari ini lebih dikarenakan rilis data ekonomi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin. BPS mencatat neraca dagang RI di April 2018 terjadi defisit hingga US$ 1,63 miliar di April 2018.

"Jadi lebih ke data makro ada sentimen jelek, ada data neraca perdagangan defisit. Itu sebenarnya yang menjadi pemicu utama menurut saya," tuturnya saat dihubungi detikFinance, Selasa (16/5/2018).

David menjelaskan, dengan defisit neraca perdagangan yang semakin lebar maka tekanan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah semakin besar. Sementara pelemahan IHSG yang cukup panjang lebih karena pelemahan nilai tukar Rupiah.

"Jadi aksi teror tidak terlalu banyak pengaruhnya, tapi lebih karena data itu untuk hari ini," tambahnya.

Menurutnya rentetan aksi teror tentu memberikan pengaruh terhadap psikologis investor untuk menempatkan dananya di Indonesia. Namun pengaruhnya tidak terlalu besar, sebab serangan terorisme juga terjadi di banyak negara.

"Investor sebenarnya so-so saja, karena sebelumnya aksi bom dan sebagainya terjadi di semua negara jadi investor ga terlalu shock. Pihak kepolisian penanganannya juga cukup bagus," kata David

David memprediksi IHSG akan kembali turun hari ini hingga batas perkiraan support di level 5.700. Oleh karena itu dia menghimbau pelaku pasar agar meninjau ulang portofolio sahamnya, apalagi yang sensitif terhadap pergerakan kurs.

"Saya rasa investor harus mulai meninjau ulang portofolionya mana yang sensitif dengan nilai tukar, mana yang tidak. Belum lagi ada rencana kenaikan suku bunga itu sensitif juga. Investor harus mulai me-review ulang portofolio yang ada," tutupnya.

Defisit Neraca Dagang Juga Bikin Rupiah Keok

Menurut Analis Binaartha Parama Sekuritas Reza Priyambada pelemahan rupiah hari ini terimbas dari data ekonomi yang dirilis BPS kemarin. Tercatat pada April 2018 terjadi defisit hingga US$ 1,63 miliar.

"Data neraca perdagangan kan data makro, jadi impact ke rupiah yang kembali melemah," tuturnya.

Menurut Reza, pelemahan rupiah semakin sulit untuk diprediksi. Apalagi pemerintah dan Bank Indonesia (BI) juga belum memberikan pernyataan terkait perkiraan titik keseimbangan rupiah yang baru.

"Masalahnya dr BI dan pemerintag sendiri belum memberikan kejelasan di level berapa rupiah itu dapar dianggap normal. Selama ini hanya bilang rupiah menuju keseimbangan yang baru. Itu akhirnya tidak jelas, sehingga rupiah pun rentan," tuturnya.

Kepala Riset Ekuator Swarna, David Sutyanto juga sependapat. Anjloknya lebih dikarenakan rilis data ekonomi yang dirilis BPS kemarin.

Dengan defisit neraca perdagangan yang semakin lebar maka tekanan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah semakin besar.

"Jadi lebih ke data makro ada sentimen jelek, ada data neraca perdagangan defisit. Itu sebenarnya yang menjadi pemicu utama menurut saya," tuturnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed