Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam paparannya menyebutkan asumsi dasar seperti pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,4-5,8%, inflasi di kisaran 2,5-4,5%, harga minyak US$60-70 per barel, dan nilai tukar Rp 13.700-14.000 per dolar AS.
Sri Mulyani menyebutkan tingginya asumsi nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) di 2019 karena sudah menghitung depresiasi rupiah terhadap dolar AS sejak awal 2018 hingga sekarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan tetap menjaga inflasi di level rendah atau sesuai asumsi yang sebesar 3,5% plus minus 1%. Sri Mulyani menyebutkan bahwa usulan nilai tukar pada tahun depan masih bisa diterima.
"Kalau inflasi kita tetap terjaga pada kisaran 3,5% plus minus 1, sementara di Amerika (Serikat) sekitar 2%, maka depresiasi pada level 3% masih acceptable (bisa diterima). Artinya memang sesuai dengan komparasi mata uang antara kita dengan AS," tutup dia. (ara/ara)











































