Follow detikFinance
Senin, 28 Mei 2018 11:17 WIB

Gubernur BI Sebut Ada 3 Faktor Penyebab Dolar AS 'Ngamuk'

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Rengga Sancaya Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Nilai dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan penguatan terhadap rupiah sejak awal tahun. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan ada tiga faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah tidak stabil.

"Bahwa yang kita hadapi sejak awal Februari yang terlihat tekanan terhadap stabilitas khususnya nilai tukar itu memang lebih karena perubahan kebijakan di AS yang memang berdampak ke seluruh negara, termasuk Indonesia," kata Perry di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (28/5/2018).

Perry menyebut, tiga faktor ini juga tidak berdampak pada rupiah saja, melainkan juga mata uang sejumlah negara berkembang. Faktor pertama adalah rencana kenaikan suku bunga The Fed.

"Sejumlah pelaku pasar memperkirakan lebih agresif, karena perekonomian AS semakin membaik, inflasi semakin tinggi sehingga pelaku pasar memperkirakan Fed Fund Rate kemungkinan naik 4 kali meskipun probabilitas lebih banyak 3 kali. Sehingga itu mendorong kenaikan suku bunga di AS," kata Perry.

Faktor kedua, lanjut Perry, adalah kebijakan fiskal negeri Paman Sam yang lebih ekspansi, seperti penurunan tarif pajak untuk penghasilan korporasi dan meningkatkan belanja infrastruktur. Hal itu akan membuat defisit fiskal AS membengkak dan butuh pembiayaan baru.

"Sehingga sukuk bunga US treasury bond-nya naik. Semula kami perkirakan US treasury bond paling-paling 2,75. Tapi sejak Februari overshooting 3,2% dan sekarang 3,1%. Itu kenapa terjadi capital reversal, dan pembalikan modal dari negara maju maupun emerging market lari ke AS. Pada saat yang sama mata uang dolar menguat ke seluruh mata uang dunia," jelas dia.

Selanjutnya, faktor yang ketiga adalah risiko yang berasal dari sejumlah geopolitik yang terjadi, salah satunya ketidakpastian yang ditimbulkan karena perang dagang antara AS dengan China.


"Ini yang menyebabkan tidak hanya subung AS naik, dolar kuat, tapi juga premi risiko di global itu naik," ungkap dia.

Meski demikian, Perry masih merasa yakin bahwa ketahanan ekonomi nasional itu cukup kuat terhadap tekanan eksternal.

"Saya merasa yakin bahwa ketahanan ekonomi Indonesia itu cukup kuat terhadap tekanan eksternal apakah pada saat ini, maupun episode tekanan sebelumnya pada krisis Yunani Oktober 2011, taper tantrum Mei 2013, revisi growth China 2015, dan juga Brexit, dan Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat," tutup dia.

(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed