Royal Numico Beli Lima Persen Saham Sari Husada
Rabu, 20 Jul 2005 18:45 WIB
Jakarta - Ditengah memanasnya dugaan insider trading yang menimpa PT Sari Husada Tbk (SHDA), pemegang saham mayoritas perseroan Royal Numico NV memutuskan menambah kepemilikan sahamnya sebesar 5%. Proses pembelian saham tersebut telah dimulai sejak 20 Juli 2005 dengan harga pembelian Rp 3.500 per saham. Dampak aksi korporasi tersebut sudah terlihat dari pergerakan saham produsen makanan bayi itu pada transaksi saham di Bursa Efek Jakarta (BEJ), Rabu (20/7/2005). Saham perseroan dengan kode SHDA hari ini melejit dengan kenaikan Rp 600 di level Rp 2.600 per saham. "Royal Numico akan menambah jumlah sahamnya di Sari Husada sebesar 5% menjadi 86,3% yang efektif mulai 20 Juli 2005 dengan harga pembelian Rp 3.500 per saham," kata Dirut Sari Husada Budi Satria Isman dalam jumpa pers di Mid Plaza, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (20/7/2005). Saat ini kepemilikan saham Numico yang berbasis di Belanda, tercatat 81,63%. Menurut Budi, jika ada transaksi di masa yang akan datang, Numico menjamin akan menghargai saham yang dimiliki pemegang saham dengan harga yang sama Rp 3.500 per saham. Budi menegaskan, pembelian saham oleh Numico tidak ditujukan untuk membeli saham milik publik. Dengan demikian perseroan tetap menjadi perusahaan yang tercatat di bursa. Perseroan juga tidak ada keinginan untuk melakukan voluntary delisting. Menurut Gerrit Keyaerts, Komisaris Sari Husada, saham yang dibeli Numico sebesar 5% adalah saham milik Johnny Widjaya yang merupakan salah satu pendiri Sari Husada yang telah bekerja selama 33 tahun di perusahaan tersebut. Namun Keyaerts menolak alasan pembelian saham Johnny Widjaja dikaitkan dengan kasus dugaan insider trading yang tengah disidik Bapepam. Keyaerts juga enggan menjelaskan, bahwa dampak pembelian tersebut menguntungkan pihak Johnny Widjaja, karena harga saham yang dibeli sangat tinggi dibandingkan harga transaksi saham tersebut di bursa. "Kita tidak bisa komentar hal tersebut karena Bapepam sendiri masih menyelidiki kasus ini, dan soal harga penjualan saham itu berdasarkan kesepakatan Numico dan Johnny Widjaja sendiri," kata Keyaerts. Meski Numico telah menjadi pemegang saham mayoritas, perseroan tetap akan meminta persetujuan pemegang saham lainnya dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB). Rencananya RUPSLB akan digelar dalam waktu dekat. RUPSLB juga akan mengangkat komisaris utama baru yakni Gerrit Keyaerts yang sebelumnya menjabat komisaris. Keyaerts menggantikan Peter Kroes yang mengundurkan diri bersama Johnny Widjaja yang juga menjabat anggota Komisaris. Posisi Johnny Widjaja akan diisi oleh Niraj Mehra. Sebelumnya Ketua Komite Audit Sari Husada Suad Husnan yang merupakan deputi Meneg BUMN juga telah mengundurkan diri. "Keputusan bersama yang dilakukan Peter Kroes dan Johnny Widjaja untuk mengundurkan diri diyakini sebagai langkah terbaik demi menjaga kesuksesan Sari Husada," kata Keyaerts Sekadar diketahui, kasus dugaan insider trading terjadi ketika perusahaan melakukan buy back pada September 2003. Pelaksanaan buy back itu dilakukan tidak lama setelah perseroan melakukan ESOP (employee stock options program) yang hanya berlaku untuk direksi. Kedua aksi korporasi itu diduga sengaja dilakukan dengan waktu yang hampir bersamaan, karena saham ESOP tersebut akhirnya ikut dibeli dalam program buy back. Kondisi ini diduga menguntungkan para direksi seperti Johhny Widjaja karena sahamnya dibeli dengan harga tinggi saat buy back.
(umi/)











































