IHSG Kembali Ciptakan Rekor

Dampak Revaluasi Yuan

IHSG Kembali Ciptakan Rekor

- detikFinance
Jumat, 22 Jul 2005 16:44 WIB
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (22/7/2005), kembali mencapai rekor tertinggi di level 1.172,244, atau naik 14,730 poin (1,27 persen). Kenaikan indeks merupakan dampak dari revaluasi yuan yang juga menggairahkan bursa regional lainnya.Indeks LQ 45 naik 4,038 poin pada level 259,249, JII naik 5,128 poin pada level 199,965, MBX naik 4,821 poin pada level 317,197 dan DBX turun 0,322 poin pada level 250,540.Perdagangan di pasar reguler sangat ramai dengan mencatat transaksi sebanyak 17.441 kali pada volume 3.160.478 lot saham senilai Rp 1,382 triliun. Sebanyak 71 saham naik, 58 saham turun dan 235 saham stagnan. Saham-saham unggulan mendominasi kenaikan di top gainer seperti Telkom (TLKM) naik Rp 350 menjadi Rp 5.800, Astra International (ASII) naik Rp 250 menjadi Rp 12.900, Indosat (ISAT) naik Rp 200 menjadi Rp 5.750, Medco Energi Internasional (MEDC) naik Rp 50 menjadi Rp 3.500, PGN (PGAS) naik Rp 25 menjadi Rp 3.100.Sedangkan saham-saham yang turun harganya di top loser antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 300 menjadi Rp 13.000, BCA (BBCA) turun Rp 75 menjadi Rp 3.500, United Tractor (UNTR) turun Rp 50 menjadi Rp 4.325, Energi Mega Persada (ENRG) turun Rp 20 menjadi Rp 790 dan Bank Niaga (BNGA) turun Rp 20 menjadi Rp 450.Menurut analis dari Sinarmas Securities, Alfiansyah, kenaikan indeks yang terus berlanjut karena adanya kepercayaan dari investor asing yang mulai masuk ke saham unggulan dan saham infrastruktur. Selain itu kenaikan indeks juga merupakan dampak positif dari revaluasi yuan yang telah mengangkat sejumlah mata uang Asia.Menurut Alfian, revaluasi yuan juga berpotensi menurunkan harga minyak dunia yang diharapkan akan semakin menggairahkan pasar saham. Sedangkan di dalam negeri beberapa saham unggulan kembali naik karena antisipasi keluarnya laporan keuangan semester I-2005. Namun Alfian mengingatkan profit taking pada pekan depan mengingat kenaikan indeks yang sudah cukup tinggi. Beberapa saham juga sudah berada di titik jenuh sehingga investor ritel diminta untuk waspada. Alfian memperkirakan hingga akhir Juli 2005 indeks bisa menembus level 1.193 setelah level resisten 1.172 terlewati. (qom/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads