Laba Bersih Bank Permata Turun 24 Persen
Senin, 25 Jul 2005 21:59 WIB
Jakarta - PT Bank Permata Tbk (BNLI) pada akhir semester 1-2005 mencatat penurunan laba bersih sebesar 24 persen menjadi Rp 219 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 286 miliar. Penurunan laba bersih ini lebih disebabkan oleh pembebanan pajak yang telah efektif di tahun ini. Sedangkan tahun-tahun sebelumnya masih terdapat tax loss carry forward yang dimiliki oleh masing-masing ex legacy bank yang berpengaruh terhadap perhitungan pajak. Demikian penjelasan Stewart D. Hall, Direktur Utama Bank Permata dalam penjelasan tertulis yang diterima detikcom, Senin (25/7/2005). Untuk laba sebelum pajak meningkat sebesar 6 persen menjadi Rp Rp 319,3 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 300 miliar.Menurut Stewart, sepanjang semester pertama tahun ini, perseroan berhasil menjaga tingkat profitabilitasnya dengan membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp 847,7 miliar atau naik sekitar 11 persen dibandingkan semester satu tahun lalu yang sebesar Rp 765,8 miliar. Disisi lain pendapatan non bunga juga meningkat sebesar 38 persen yakni dari Rp 153,8 miliar menjadi Rp 211,9 miliar pada semester satu 2005. Hal ini kata Stewart, mencerminkan upaya Bank Permata untuk terus meningkatkan pendapatan fee based income. Stewart menjelaskan, dengan dukungan Standard Chartered Bank dan PT Astra Internasional Tbk sebagai pemegang saham yang memiliki jaringan internasional,peluang Permata Bank untuk meningkatkan fee based income-nya semakin terbuka.Cara itu akan ditempuh melalui produk-produk unggulan seperti bancassurance,wealth management, treasury products serta cash management.CAR Turun Sampai dengan akhir semester I tahun 2005 Bank Permata telah membukukan outstanding pinjaman (gross) sebesar Rp 18,8 triliun atau naik sekitar 56 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 12,06 triliun. Kredit tersebut terutama untuk segmen Usaha Kecil Menengah (UKM), komersial dan ritel. Meningkatnya pinjaman ini diikuti oleh penurunan obligasi rekapitalisasi sebesar Rp 4,2 triliun dari Rp 9,1 triliun pada akhir Juni 2004 menjadi Rp 4,9 triliun pada akhir Juni 2005. Sedangkan dana masyarakat yang berhasil dihimpun per 30 Juni 2005 mencapai Rp 24,18 triliun, jumlah dana pihak ketiga (DPK) ini turun sekitar 3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Menanggapi hal ini Stewart menjelaskan, bahwa hal tersebut sejalan dengan strategi Bank Permata untuk memperbaiki struktur neraca baik asset maupun liabilities dengan mengurangi ketergantungan terhadap penerimaan dari obligasi rekapitalisasi dan di sisi lain meningkatkan konstribusi dana murah dalam bentuk giro dan tabungan. Dijelaskan, sepanjang periode Juni 2004-2005 Bank Permata berhasil menurunkan jumlah deposito sebesar 12 persen, sedangkan giro dan tabungan masing-masing naik sebesar 13 persen dan 20 persen.Dari sisi neraca, total aset Bank Permata per 30 Juni 2005 mencapai Rp 31,35 triliun. Total aset tersebut relatif sama atau mengalami kenaikan 3 persen dibanding periode sebelumnya. Rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) mencapai 11,7 persen turun dibandingkan semester satu tahun 2004 yang sebesar 12,3 persen. Tingkat CAR per Juni 2005 ini juga lebih rendah dibandingkan akhir Maret 2005 (triwulan satu) yang sebesar 13 persen untuk CAR dengan resiko kredit dan 12,9 persen untuk CAR dengan risiko pasar. Menurut Stewart, turunnya rasio CAR ini lebih disebabkan oleh naiknya jumlah Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) akibat naiknya jumlah outstanding kredit.Disisi lain penanganan manajemen risiko Bank Permata terus ditingkatkan dengan mengadopsi praktek-praktek terbaik (best practices) yang dilakukan oleh perbankan internasional seperti Standard Chartered. Sedangkan untuk rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (netto) menurun dari 2,4 persen pada akhir Juni 2004 menjadi 1,9 persen pada akhir Juni2005.
(mar/)











































