Pasokan Gas Kurang, PT Kedaung Terancam Berhenti Produksi

Pasokan Gas Kurang, PT Kedaung Terancam Berhenti Produksi

- detikFinance
Rabu, 27 Jul 2005 14:06 WIB
Jakarta - Perusahaan peralatan rumah tangga milik pengusaha Probosutedjo, PT Kedaung Indah Can Tbk (KICI), terancam berhenti produksi karena seretnya aliran gas dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN). Berkurangnya pasokan tersebut dikarenakan PGN sedang mengalami penurunan suplai dari Kodeco, Lapindo, Brantas, dan EMP Kangean. Akibat turunnya suplai tersebut, PGN lantas meminta kepada perusahaan-perusahaan pemakai gas agar mengurangi konsumsi gas hingga 40 persen. Adanya imbauan tersebut membuat Kedaung mengurangi pemakaian gas dari empatfurnace dengan tiga shift menjadi dua furnace dengan satu shift. "Dengan demikian perusahaan hanya bekerja 16 persen dari kapasitas maksimal yang dimiliki," kata Ing Hidayat K, Corporate Secretary Kedaung dalam penjelasannya ke Bursa Efek Jakarta (BEJ), Jl Sudirman, Jakarta, Rabu (27/7/2005). Menurut Hidayat, PGN telah mengeluarkan imbauan pertama kali pada 29 Juni 2005, yang meminta kepada perusahaan untuk mengurangi pemakaian rata-rata gas. Pengurangan itu sebesar 35 persen dari rata-rata pemakaian sesuai kontrak dan berlaku per 1 Juli 2005. Kemudian PGN mempertegas kembali imbauannya dalam pertemuan 20 Juli 2005. PGN menetapkan pemakaian gas harus tidak lebih dari 60 persen dari kontrak antara perusahaan dan PGN. "Ini berarti Kedaung harus memangkas pemakaian gasnya sebesar 40 persen dari kontrak awal," kata Hidayat. Menurut dia, dalam pertemuan kedua itu, PGN menegaskan akan memberi sanksi peringatan sebanyak dua kali, diikuti peringatan ketiga berupa pencabutan sementara aliran gas ke pelanggan. Sampai saat ini, kata Hidayat, Kedaung telah menerima dua kali peringatan terkait pemakaian gas tersebut. Maka itu, lanjut Hidayat, Kedaung terus melakukan komunikasi dengan PGN, karena perseroan tidak memiliki alternatif bahan bakar lain untuk produksinya. "Tapi jila PGN bersikeras dengan kehendaknya, akibat paling buruk yang akan diterima konsumen kami adalah tidak ada lagi produksi Kedaung, karena operasional perusahaan akan berhenti secara keseluruhan," katanya. Sedangkan Bambang Banyudono, General Manager Strategy Business Unit (SBU) I PGN, ketika dihubungi wartawan, mengakui adanya pengurangan pasokan gas untuk wilayah Jawa Timur, akibat berkurangnya pasokan dari EMP Kangean. Pengurangan gas ke Jawa Timur ini diakui tidak hanya ke Kedaung tetapi juga berlaku untuk perusahaan lain yang memakai gas. Namun untuk kasus Kedaung, pengurangan gas tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pasokan gas, tapi juga karena perseroan mempunyai tunggakan utang ke PGN. "Tapi kita tidak bisa sebutkan jumlahnya," ujar Bambang. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads