ADVERTISEMENT
Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 18 Jul 2018 15:02 WIB

Sevel Masih Nunggak Bayar Pesangon Karyawan Rp 8,75 Miliar

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Dok Foto: Dok
Jakarta - PT Modern Internasional Tbk (MDRN) masih menyisakan kewajiban terhadap mantan pegawai 7-Eleven. Kewajiban itu berupa pesangon yang belum dibayar sejak PT Modern Sevel Indonesia (MSI) gulung tikar.

Direktur MDRN Johannis mengatakan pihaknya masih belum melunasi sisa pembayaran pesangon beberapa mantan pegawai Sevel. Sementara untuk sisa gaji, pembayaran BPJS hingga THR dia mengklaim sudah melunasi.

"Ya masih sama, hanya pesangon sisanya," tuturnya di Gedung Ricoh, Jakarta, Kamis (18/7/2018).

Johannis menjelaskan sesuai keputusan sidang PKPU jumlah pesangon mantan pegawai Sevel yang harus dibayar sebesar Rp 17,5 miliar. Saat ini masih ada sekitar 50% yang belum dibayarkan. Perusahaan mempunyai tenggat waktu hingga Oktober 2018 sebesar Rp 8,75 miliar.


MDRN juga telah mencairkan uang jaminan kontrak (security deposit) yang tersimpan di 7-Eleven pusat sekitar US$ 5 juta. Namun ternyata uang itu tidak cair sepenuhnya.

Uang tersebut juga digunakan tak hanya untuk membayar kewajiban pegawai tapi juga utang supplier dan kreditur.

Dalam rangka mengurangi utang, MDRM juga telah mendapatkan persetujuan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) dalam rangka konversi utang ke ekuitas, serta persetujuan penjaminan dan penjualan aset melebihi 50% dari kekayaan bersih.

PMTHMETD itu dalam rangka mengurangi utang kepada PT Bukit Hedama Permai (BHP) yang dikonversikan menjadi kepemilikan saham. MDRN sendiri akan menerbitkan sebanyak 457.469.799 lembar saham baru atau 10% dari modal yang disetor penuh dengan nilai Rp 100 per saham sehingga setara Rp 45,75 miliar.

"Utang kita sekitar Rp 119 miliar ke BHP, jadi setidaknya bisa mengurangi," tuturnya.



Sebenarnya keputusan untuk konversi utang ke saham itu merupakan transaksi afiliasi. Sebab BHP juga merupakan pemegang saham MDRN sebesar 26,64%. Sungkono Honoris selaku Dirut MDRN juga menjabat sebagai direktur di BHP.

Selain itu perusahaan juga mendapatkan restu untuk melakukan restrukturisasi utang-utang lainnya dengan cara meminta perpanjangan waktu pelunasan utang. MDRN akan mengandalkan bisnis barunya sebagai agen importir Ricoh untuk pembayaran nantinya.

"Mayoritas sudah dapat lampu hijau dari mereka kreditur, dalam waktu dekat kita akan push lagi. Maksimal kita minta perpanjangan 10 tahun, tapi bervariasi," tambah Johannis.

Total liabilitas lancar MDRN saat ini sekitar Rp 1,26 triliun. Liabilitas itu terdiri dari utang bank maupun non bank baik jangka pendek ataupun jangka panjang yang jatuh tempo dalam kurun waktu 1 tahun.

Sementara itu, MDRN dalam waktu dekat akan melunasi sisa utang terhadap PT Bank CIMB Niaga Tbk sebesar Rp 43,85 miliar. "Itu dibayar dalam waktu dekat, ya sumbernya diada-adain lah," ucap Johannis.

Sedangkan untuk utang Bank Mandiri Rp 148 miliar, Bank Permata Rp 4 miliar dan Standard Chartered Bank sebesar Rp 42,9 miliar akan diajukan permohonan perpanjangan waktu pelunasan. Belum lagi utang terhadap perusahan keuangan non bank lainnya.

Sekedar informasi saat ini aset dari mantan induk PT Modern Sevel Indonesia (MSI) ini sebesar Rp 873,68 miliar. Sehingga total liabilitas perseroan mencapai 147% dari aset yang dimiliki. (zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com