Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 25 Jul 2018 19:35 WIB

Penyebab Rupiah Keok Lawan Mata Uang Negara Lain dan Solusinya

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun tak hanya terhadap dolar AS, nilai tukar rupiah juga melemah terhadap mata uang negara berkembang.

Ekonom PermataBank Josua Pardede menjelaskan pelemahan nilai tukar rupiah beberapa waktu ini masih didominasi oleh faktor eksternal yakni respons bank sentral China mengantisipasi dampak perang dagang antara AS dan China.

Dia mengungkapkan Bank sentral China melemahkan nilai tukar yuan terhadap dolar AS, sehingga mendorong pelemahan nilai tukar negara berkembang lainnya termasuk rupiah.

"Selain itu, berlanjutnya normalisasi kebijakan moneter AS juga mempengaruhi keluarnya dana-dana asing di pasar keuangan negara berkembang," kata Josua saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Rabu (25/7/2018).


Dia menjelaskan, faktor dari dalam negeri pelebaran defisit transaksi berjalan seiring kenaikan harga minyak dunia serta peningkatan aktivitas investasi domestik juga membuat investor asing menarik dananya dari pasar keuangan domestik.

Meskipun berpotensi melebar, defisit transaksi berjalan pada tahun 2018 dan 2019 diperkirakan masih dalam level yang sehat yakni di kisaran 2-2,5% terhadap PDB.

Dalam jangka pendek ini, BI dinilai tetap menerapkan stance kebijakan moneter yang ketat setelah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin (bps) pada semester I tahun ini. Ini dilakukan untuk menahan keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik sehingga akan mendorong stabilnya nilai tukar rupiah.

"Selain itu langkah stabilisasi melalui intervensi ganda akan tetap dioptimalkan dalam rangka memberikan confidence bagi pelaku pasar," ujarnya.

Selain itu, dalam jangka pendek ini BI akan memperkuat operasi moneternya melalui memperkuat operasi pasar terbuka dengan mengaktifkan lagi SBI 9 dan 12 bulan yang diperkirakan akan menarik masuknya dana asing di pasar uang serta menyerap likuiditas rupiah sedemikian sehingga akan mendorong stabilitas rupiah dalam jangka pendek ini.


Selain itu BI juga akan menggunakan IndONIA yang akan menggantikan JIBOR Overnight (O/N). IndONIA diharapkan lebih transparan dan kredibel mengingat IndONIA diperoleh dari rata-rata tertimbang suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) yang ditransaksikan di pasar.

Berbeda dengan JIBOR O/N yang merupakan suku bunga atas transaksi pinjam-meminjam antar bank yang diperoleh dari kuotasi beberapa bank kontributor JIBOR, IndONIA diharapkan lebih kredibel mencerminkan kondisi likuiditas di pasar.

Hal tersebut akan mendorong pendalaman pasar transaksi derivatif mengingat perhitungan premium transaksi lindung nilai seperti Cross Currency Swap dan Call Spread Option, sehingga akan semakin banyak pelaku pasar melakukan transaksi lindung nilai.

Dengan demikian, transaksi perdagangan valas tidak lagi terkonsentrasi pada pasar spot sehingga mendorong stabilnya nilai tukar rupiah. Di sisi pemerintah, pemerintah perlu mendorong penerimaan devisa dari sektor pariwisata yakni mendorong percepatan pembangunan infrastruktur utama serta pendukung sektor pariwisata.


Selain itu, dalam jangka pendek perlu ada kebijakan pemerintah untuk memberikan insentif bagi industri yang berorientasi ekspor secara khusus ekspor produk manufaktur. Dalam jangka pendek ini juga, BI dapat mendorong agar para eksportir melaporkan devisa hasil ekspor yang dapat meningkatkan supply dolar AS di pasar domestik.

"Pemerintah dan BI pun perlu meningkatkan komunikasinya dengan pelaku pasar khususnya investor asing dengan meyakinkan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan first line of defence Bank Indonesia diharapkan dapat mengelola gejolak di pasar keuangan dalam jangka pendek ini," jelas dia. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed