Danareksa Bakal Rugi Sekitar Rp 90 Miliar Tahun 2005
Selasa, 02 Agu 2005 15:47 WIB
Jakarta - PT Danareksa (persero) selama tahun 2005 diperkirakan masih membukukan rugi. Pasalnya selama semester I-2005, Danareksa mencatat kerugian hingga Rp 198,2 miliar.Dengan perkiraan laba sekitar Rp 100 miliar selama semester II-2005, Danareksa tetap tak akan mampu menutup lubang kerugian itu."Kalaupun dalam lima bulan ke depan kita mampu mencapai laba Rp 100-110 miliar, masih ada gap Rp 90 miliar yang harus ditutupi dan itu sangat sulit. Sehingga akhir tahun kita masih akan mengalami kerugian," kata Dirut Danareksa Lin Che Wei dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (2/8/2005).Tingginya kerugian yang diderita Danareksa selama semester II-2005, menurut Che Wei karena adanya penurunan pendapatan usaha. Selama semester I-2004, Danareksa memperoleh pendapatan usaha sebesar Rp 162 miliar, namun selama semester I-2005, pendapatan usaha turun Rp 123,7 miliar. Menurut Che Wei, penurunan pendapatan terutama datang dari pendapatan jasa yang turun signifikan dari Rp 98,5 miliar di semester I 2004 menjadi Rp 69,6 miliar pada semester I-2005. Kerugian Danareksa juga dipicu oleh penyisihan pencadangan atau provisi untuk non performing asset terhadap beberapa tagihan yang macet senilai Rp 248,9 miliar. Jumlah NPL atau kredit bermasalah yang harus diselesaikan Danareksa mencapai Rp 800-900 miliar. Beberapa perusahaan yang masuk dalam non performing asset di Danareksa adalah PT Pasifik Satelit Nusantara, PT Asia Cellular Satellite (ACES), PT Widya Duta Informindo dan PT Hutama Karya dan PT Tridaya Esta.Che Wei menegaskan, mulai saat ini Danareksa akan konsentrasi di bisnis inti seperti meningkatkan kembali kegiatan investment banking dan debt capital market. Diakui, kegiatan investment banking Danareksa mengalami penurunan karena pada semester I-2005 hanya bisa mencapai pendapatan 5 persen dari total rencana kerja anggaran tahunan. Sementara untuk investment management terjadi penurunan karena adanya redemption dan perang fee. "Selama ini kita lebih banyak melakukan equity trading, padahal kontribusinya relatif kecil sehingga kita akan meningkatkan divisi lain," jelas Che Wei.
(qom/)











































