Laba Indocement Terpangkas Kenaikan BBM dan TDL Industri
Kamis, 04 Agu 2005 17:25 WIB
Jakarta - Kenaikan BBM untuk industri dan juga kenaikan tarif dasar listrik (TDL) saat beban puncak bakal 'memakan korban'. Kedua kebijakan yang ditujukan untuk hemat energi itu bakal mengurangi laba PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Indocement memperkirakan pertumbuhan penjualannya selama semester II-2005 akan merosot di bawah angka pertumbuhan penjualan pada semester I-2005 yang mencapai 8 persen. Demikian diungkapkan Direktur Keuangan Indocement Christian Kartawijaya di sela-sela ulang tahun ke-30 Indocement di Hotel Ritz Carlton, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Kamis (4/8/2005).Christian menjelaskan, kenaikan BBM yang disesuaikan harga pasar untuk industri termasuk sektor semen telah berpengaruh secara signifikan dan akan merugikan secara langsung indusri semen. Pasalnya, harga industrial diesel oil (IDO) dan solar untuk industri semen naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan harga bulan Maret, sedangkan harga marine fuel oil naik 34 persen. "Kenaikan tersebut akan semakin meningkatkan biaya produksi di semester II," ujar Christian. Ditambahkan, selain faktor-faktor di atas, masih ada faktor yang akan mempengaruhi kinerja perseroan pada semester II-2005 yakni fluktuasi nilai tukar rupiah dan kenaikan suku bunga SBI yang diperkirakan hingga akhir tahun mencapai 9,2 persen. "Jika SBI terus naik, ini berdampak pada sektor properti yang sensitif terhadap kenaikan suku bunga. Akibatnya akan terjadi penurunan permintaan yang akan berimbang pada penurunan permintaan semen," tambahnya.Ia juga mengaku Indocement tidak bisa membebankan semua kenaikan biaya produksi ini terhadap penjualan semen ke konsumen. "Karena persaingan pasar sangat ketat akibat adanya kapasitas berlebih di industri semen. Selain itu juga karena proyek infrastruktur tertunda," katanya.Christian menambahkan, jika penjualan domestik menurun ada kemungkinan perseroan akan mengalihkan ke penjualan ekspor. Namun untuk penjualan ekspor sudah memiliki kontrak awal sehingga kemungkinan yang dialihkan hanya sedikit. Saat ini kapasitas terpasang Indocement mencapai 65 persen dengan total produksi sebesar 11 juta ton per tahun.
(qom/)











































