Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 19 Sep 2018 15:08 WIB

Selama Transaksi Berjalan Defisit, Risiko Rupiah Keok Tetap Ada

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Pradita Utama Foto: Pradita Utama
Jakarta - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Saat ini, dolar bertengger di atas level Rp 14.000. Lantas, kapan pelemahan itu berhenti?

Direktur Eksekutif Departemen Internasional Bank Indonesia (BI) Doddy Zulverdi mengatakan, risiko pelemahan rupiah akan terus terjadi sepanjang transaksi berjalan mengalami defisit. Transaksi berjalan merupakan neraca perdagangan barang dan jasa.


"Depresiasi niscaya akan terus terjadi sepanjang transaksi berjalan kita defisit. Kenapa, transaksi berjalan itu dalam bentuk dolar, untuk biayai defisit tadi," kata Dody dalam Seminar ke Mana Arah Rupiah? di DPR Jakarta, Rabu (19/9/2018).

Dia mengatakan selama defisit artinya Indonesia kekurangan pasokan dolar. Menurutnya risiko pelemahan akan hilang jika transaksi berjalan surplus.


"Kita akan selalu kekurangan dolar, kita akan selalu berada dalam posisi net beli dolar daripada net supply kalau current account surplus kita akan net supply menghasilkan dolar," terang Doddy.

"Artinya, sepanjang belum bisa mengembalikan transaksi berjalan surplus maka risiko nilai tukar melemah pasti," tambahnya.


Menurut Doddy terpenting saat ini menjaga pelemahan rupiah tetap terkendali dan tidak secepat mata uang negara-negara lain.

"Yang penting depresiasi terkendali tidak terlalu cepat sejalan dengan negara lain," tutupnya.


Saksikan juga video 'BI: Rupiah Masih Lebih Baik dari Mata Uang Negara Lain':

[Gambas:Video 20detik]

(hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed