Sempat Capai Rekor Saat Bom Bali, IHSG Anjlok 35,695 Poin
Senin, 15 Agu 2005 16:42 WIB
Jakarta - Badai harga minyak dan kenaikan SBI memporakporandakan pasar saham. Akibatnya, IHSG pada Senin (15/8/2005) mencatat penurunan terbesar hingga 35,695 poin (3,09 persen) pada level 1.118,274. Indeks bahkan sempat melemah hingga 39,027 poin. Angka itu berarti hampir menyamai penurunan saat peristiwa bom Bali 12 Oktober 2002 lalu yang membuat indeks sempat anjlok lebih dari 40 poin, dan akhirnya ditutup 'hanya' 38,991 poin.Indeks LQ 45 turun 8,562 poin pada level 244,790, JII turun 6,650 poin pada level 187,607, MBX turun 9,315 poin pada level 301,890 dan DBX turun 9,061 poin pada level 241,926.Muhammad Reza dari Kuo Capital Raharja mengatakan, penurunan indeks terutama dipicu oleh tingginya harga minyak dunia dan terus naiknya tingkat suku bunga SBI. Kedua faktor ini dimanfaatkan pelaku pasar untuk melepas saham-saham sektor pertambangan, agribisnis dan infrastruktur.Perdagangan di pasar reguler diramaikan oleh aksi jual saham, sehingga hanya enam saham yang mencatat kenaikan. Selebihnya 144 saham turun dan 212 saham stagnan. Transaksi yang terjadi sebanyak 16.915 kali pada volume 3.219.926 lot saham senilai Rp 1,420 triliun. Saham-saham yang mencatat penurunan terbesar di top loser antara lain, Adira Dinamika Multifinance (ADMF) turun Rp 475 menjadi Rp 2.125, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 450 menjadi Rp 11.800, Bank Danamon (BDNM) turun Rp 200 menjadi Rp 4.800, Indosat (ISAT) turun Rp 200 menjadi Rp 5.600, Telkom (TLKM) turun Rp 150 menjadi Rp 5.200. Sedangkan enam saham yang masih mampu mencetak kenaikan adalah Petrosea (PTRO) naik Rp 150 menjadi Rp 5.259, Astra Otopart (AUTO) naik Rp 25 menjadi Rp 3.175, Smart (SMAR) naik Rp 10 menjadi Rp 1.110, Karwell Indonesia (KARW) naik Rp 10 menjadi Rp 470, Bank Mayapada (MAYA) naik Rp 5 menjadi Rp 115, Tifico (TFCO) naik Rp 5 menjadi Rp 370.Reza memperkirakan, indeks akan terus melorot dalam jangka pendek hingga menembus level support 1.010. "Baru setelah itu indeks akan kembali naik dan melewati resisten tertingginya yang hampir 1.090," tambah Reza.Sentimen negatif dari dalam negeri yang masih dimanfaatkan investor adalah masalah kenaikan suku bunga SBI yang saat ini sudah menyebabkan jebloknya pasar obligasi. Namun faktor lain yang mendominasi adalah sentimen global seperti harga minyak dunia.
(qom/)











































