Jika Jadi Dilakukan
Delisting Telkom Perlu 3 Tahun
Selasa, 16 Agu 2005 11:08 WIB
Jakarta - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) membutuhkan waktu 2-3 tahun jika jadi melakukan penghapusan pencatatan saham atau delisting dari New York Stock Exchange (NYSE). Kajian delisting ini diharapkan selesai Agustus 2005."Kita juga butuh waktu untuk menyelesaikan delisting dari New York 2 sampai 3 tahun lagi, karena di sana Telkom punya 7 persen investor," kata Dirut Telkom Arwin Rasyid di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (16/8/2005). Dalam masa 2-3 tahun itu, Telkom tetap harus mematuhi peraturan dari Bapepam AS atau Security Exchange Committee (SEC). Arwin menjelaskan, delisting Telkom dari NYSE memiliki keuntungan dan kerugian. Keuntungannya adalah jika Telkom melakukan duallisting, maka perseroan bisa diatur dengan lebih prudent. Sedangkan kerugiannya adalah dari sisi sisi keuangan dan non keuangan. Dari sisi keuangan, Telkom harus mengeluarkan biaya audit dan legal yang jumlahnya 5-6 kali lipat dibandingkan jika perusahaan tidak melakukan duallisting. Arwin membandingkan biaya audit dan legal jika tidak melakukan duallisting hanya sebesar Rp 3-4 miliar. Namun jumlah itu melonjak hingga 5-6 kali lipat jika perusahaan melakukan duallisting yang menghabiskan biaya sekitar Rp 18 miliar. Mengenai keinginan Telkom dalam buy back saham Indosat, Arwin mengaku belum ada pembicaraan. "Tapi kita punya dana untuk membeli perusahaan sekelas Indosat," tegas Arwin.Telkom juga berencana mengurangi komposisi utang valas dan memperbanyak utang dalam mata uang lokal. Salah satu caranya adalah melakukan perubahan struktur utang baik dari dana internal maupun eksternal.Mantan Wakil Dirut BNI ini menambahkan, perusahaan telekomunikasi dunia biasanya melakukan tiga strategi untuk meningkatkan kapital perusahaan. Pertama, membagikan dividen di atas 50 persen. Kedua, ekspansi ke luar negeri, karena pasar sudah jenuh dalam rangka meningkatkan nilai seperti yang dilakukan signtel. Ketiga, melakukan buy back saham publik. Menurut Arwin, Telkom bisa saja melakukan tiga strategi tersebut.
(qom/)











































