Saham Saratoga Merosot Pasca Sandi Lepas Kepemilikan 2%

Danang Sugianto - detikFinance
Jumat, 05 Okt 2018 14:11 WIB
Sandiaga Uno/Foto: M Rofiq
Jakarta - Saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk hari ini bergerak di zona merah pasca Sandiaga menjual porsi kepemilikannya di emiten berkode saham SRTG itu. Melansir data RTI, Jumat (5/10/2018), hingga jeda sesi I saham SRTG sudah melemah 210 poin atau turun 5,53% dari posisi penutupan sebelumnya Rp 3.800 menjadi Rp 3.590.

Transaksi saham SRTG di setengah hari ini tak begitu ramai. Tercatat frekuensi transaksi hanya 72 kali dari 60,8 ribu lembar dengan nilai Rp 222 juta.


Kemarin PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan Sandiaga Uno melepas sahamnya di SRTG sebanyak 51.400.000 lembar saham. Saham itu dijual di harga Rp 3.776.

Sandi menjual saham SRTG dalam 2 kali transaksi. Transaksi pertama dilakukan pada 2 Oktober 2018 dengan menjual 12.000.000 lembar saham dan 3 Oktober 2018 sebanyak 39.400.000.


Kepemilikan saham Sandi di SRTG sebelum transaksi sebanyak 754.115.429 saham atau 27,79%. Setelah transaksi kepemilikannya berkurang menjadi 702.715.429 saham atau 25,9%.

Menurut Sandi dia menjual saham di SRTG untuk membeli obligasi pemerintah.


"Salah satu dari pemikiran saya adalah menggunakan hasil dari divestasi tersebut untuk membeli obligasi-obligasi pemerintah. Ini menunjukkan kepercayaan kepada ekonomi Indonesia dan tentunya nanti reposisi daripada surat-surat berharga yang ada di LHKPN saya dari kepemilikan di perusahaan yang saya dirikan, mungkin ke obligasi-obligasi yang diterbitkan negara untuk mendukung kekuatan ekonomi kita karena negara butuh pembiayaan sekarang," ujar Sandi usai olah raga di kawasan Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan, Jumat (5/10/2018).

Dia menambahkan, jumlah saham yang dilepas sekitar 2% dari total kepemilikannya di Saratoga.


"Kalau nggak salah sekitar 2% dari total kepemilikan saya, dan akan saya evaluasi terus dalam hari-hari ke depan ini, bagaimana keadaan ekonomi. Ini saatnya kita menunjukkan keberpihakan kita kepada ekonomi Indonesia dengan menunjukkan kepercayaan kita kepada surat-surat berharga yang diterbitkan pemerintah," tutur Sandi. (das/hns)