Follow detikFinance
Selasa, 09 Okt 2018 18:22 WIB

Rupiah dan IHSG Anjlok Perburuk Kinerja Reksadana

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Ari Saputra Foto: Ari Saputra
Jakarta - Ketidakstabilan perekonomian seperti anjloknya nilai tukar rupiah hingga merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuat kinerja produk investasi tertekan. Tidak terkecuali produk reksadana.

Senior Vice President Intermediary Business Schroders, Adrian Maulana mengakui tahun ini memang bukan tahun yang ramah bagi reksadana. Hampir semua jenis reksadana, baik reksadana saham, pendapatan tetap, pasar uang hingga campuran cenderung negatif.

"Rata-rata dari semua instrumen itu rata-rata kinerja negatif dari awal tahun," tuturnya kepada detikFinance, Selasa (9/10/2018).



Namun dari seluruh jenis produk reksadana yang mengalami penurunan paling dalam adalah reksadana saham. Dia mencatat rata-rata penurunan reksadana saham dari awal tahun sekitar 9-10%.

Tidak heran dengan penurunan kinerja reksadana saham itu. Sebab jika mengacu pada sumber portofolionya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak awal tahun sudah turun sebesar 8,79%.

"Investor asing dalam 2 tahun ini banyak yang keluar dari pasar modal Indonesia terutama 2018 ini. Modal yang keluar dari pasar modal tentu memberikan dampak negatif untuk kinerja reksadana pada umumnya sampai hari ini," tambahnya.

Meski begitu, Adrian mengingatkan, pada dasarnya investasi seperti reksadana seharusnya ditanamkan dalam jangka menengah dan panjang. Dia pun yakin akhir tahun nanti reksadana akan kembali pulih.

Mengingat biasanya akhir tahun terdapat fenomena window dressing, yang mana para fund manager besar akan mempercantik kinerja portofolionya. Selain itu para emiten juga rata-rata melakukan pembelian kembali (buyback) saham lantaran harga sahamnya dianggap sudah di bawah harga wajar.

(das/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed