Follow detikFinance
Selasa, 09 Okt 2018 20:04 WIB

Rupiah dan IHSG Anjlok, Hindari Reksadana Pendapatan Tetap

Danang Sugianto - detikFinance
Ilustrasi/Foto: Grandyos Zafna Ilustrasi/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Anjloknya nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) membuat kinerja dari produk reksadana dari awal tahun rata-rata mengalami pelemahan. Namun penurunan ini dianggap menjadi peluang untuk masuk kembali.

Menurut Senior Vice President Intermediary Business Schroders, Adrian Maulana saat ini menjadi waktu yang pas untuk berinvestasi di pasar modal. Sebab akhir tahun nanti biasanya ada fenomena window dressing mempercantik kinerja portofolionya.

Selain itu para emiten juga rata-rata melakukan pembelian kembali (buyback) saham lantaran harga sahamnya dianggap sudah di bawah harga wajar.

"Tahun ini masih menyisakan waktu 2,5 bulan lagi. Jadi ini waktu yang tepat untuk masuk," tuturnya kepada detikFinance, Selasa (9/10/2018).



Adrian merekomendasikan untuk masuk ke produk reksadana saham. Sebab jenis reksadana ini turun paling dalam sekitar 9-10% dari awal tahun.

Dia tidak merekomendasikan produk reksadana yang terkandung surat utang. Sebab tren surat utang dalam ke depan cenderung mengalami penurunan yield.

"Karena di AS suku bunga cenderung naik terus. US Treasury bond 10 tahun yang jadi tolak ukur sudah tinggi sekali yakni 3,2%," tambahnya.

Dengan begitu maka mau tak mau Bank Indonesia (BI) akan ikut menaikkan suku bunga acuan BI 7 days reverse repo rate. Dengan meningkatnya suku bunga maka tren yield dari obligasi akan menurun khususnya bertenor 10 tahun.

(das/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed