Garuda Dapat Fasilitas Kredit BNI untuk Perawatan Pesawat

Muhammad Idris - detikFinance
Kamis, 11 Okt 2018 12:43 WIB
Foto: Dok. BNI
Nusa Dua - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI dan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk atau Garuda Indonesia meningkatkan kerja sama penggunaan fasilitas perbankan dengan menandatangani perjanjian fasilitas Stand By Letter of Credit (SBLC). Fasilitas BNI ini dimanfaatkan oleh Garuda untuk pengelolaan dana perawatan pesawat.

Penandatanganan perjanjian kerja sama ini dilaksanakan di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10/2018) oleh Direktur Bisnis Korporasi BNI Putrama Wahju Setyawan dengan Direktur Keuangan & Manajemen Risiko Garuda Fuad Rizal. Acara yang digelar bertepatan dengan IMF - World Bank Annual Meeting 2018 ini disaksikan oleh Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra.

Pada kesempatan ini, Direktur Bisnis Korporasi BNI Putrama Wahju Setyawan menjelaskan, bahwa kerja sama fasilitas ini merupakan bentuk kepercayaan BNI kepada Garuda Indonesia yang terus meningkatkan performa perusahaan di tengah daya saing industri penerbangan yang sangat tinggi.

Selain itu, BNI juga menjadi mitra strategis Garuda Indonesia yang menyediakan fasilitas transaksi perbankan lainnya, yaitu seperti cash management, pembayaran gaji karyawan, e-tax, hingga kredit konsumer kepada pegawai.


Dengan dilaksanakannya perjanjian kerja sama tersebut, BNI telah memberikan fasilitas Non Cash Loan kepada Garuda Indonesia sebesar US$ 200 juta yang merupakan persetujuan awal dari rencana sampai dengan US$ 400 juta.

"BNI terus berupaya menjadi mitra strategis perbankan yang terbaik untuk Garuda Indonesia serta bisa mewujudkan Sinergi BUMN yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat," kata Putrama di Nusa Dua, Kamis (11/10/2018).

Dalam acara yang sama, Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, menjelaskan bahwa fasilitas SBLC ini sangat membantu Garuda Indonesia dalam mengelola dana perawatan pesawat untuk menunjang cash flow.

Fasilitas tersebut berfungsi sebagai jaminan untuk menggantikan dana perawatan pesawat yang mengendap pada lessor sehingga dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan operasional perusahaan tanpa adanya peningkatan beban hutang.


"Dengan demikian cash flow perseroan akan semakin baik didukung dengan konsep kerja sama dan upaya untuk menarik kembali dolar AS yang ada di luar negeri ke Indonesia, sehingga diharapkan dapat membantu perbaikan dan penguatan nilai tukar rupiah melalui peningkatan pemasukan devisa," terang Gusti.

Baca juga informasi Indonesia Pavilion IMF-WBG selengkapnya di sini.

(idr/hns)