Risiko Ketidakpastian Meningkat
IHSG Diprediksi Jeblok ke 950
Senin, 22 Agu 2005 16:23 WIB
Jakarta - Risiko investasi di pasar modal seperti saham dan obligasi kian meningkat. Akibatnya, sebagian investor asing terus melepaskan saham-sahamnya, sehingga indeks harga saham gabungan (IHSG) sampai akhir tahun diperkirakan terus melemah ke level 950 sampai akhir tahun.Menurut Ferry Latuhihin, Chief Economist Bank International Indonesia (BII), meningkatnya risiko investasi itu sejalan dengan tingginya risiko ketidakpastian yang dipicu terpuruknya rupiah, naiknya suku bunga dan inflasi."Saat ini sangat sulit untuk memberikan rekomendasi beli untuk investor di pasar modal, karena kondisinya penuh dengan ketidakpastian," kata Ferry, Senin (22/8/2005).Faktor utama munculnya ketidakpastian menurut Ferry, terkait dengan rencana pemerintah yang akan melepas harga BBM sesuai dengan harga pasar, akibat terus naiknya harga minyak dunia. Jika BBM dinaikkan, menurut Ferry, ini akan memicu kenaikan inflasi yang cukup tinggi karena daya beli masyarakat bakal menurun. Begitu juga dengan rupiah yang akan terkena imbas negatif dari tingginya inflasi. Selain karena terus meningkatnya permintaan dolar terutama dari Pertamina dan korporasi. Sedangkan kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga untuk menjaga rupiah bagaikan angin berlalu dan sama sekali tidak berguna.Kenaikan suku bunga ini justru mulai mengancam pasar saham dan obligasi. Pasar obligasi sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga yang membuat harga obligasi jatuh.Melemahnya nilai tukar rupiah diakui Ferry bakal menggerogoti kinerja emiten di pasar modal. "Yang menyedihkan, untuk emiten baru yang akan mencari dananya di pasar modal. Kalau kondisinya seperti ini siapa yang mau beli," ujarnya.Sedangkan emiten-emiten yang sudah tercatat di bursa juga akan mengalami rugi kurs yang membengkak jika rupiah terus melewati batas level Rp 10.000 per dolar AS. Namun Ferry melihat, jika tekanan permintaan rupiah sudah memasuki tahap puncak (peak), maka rupiah berpeluang kembali ke bawah Rp 10.000 per dolar AS."Saya perkirakan jika tekanan dari Pertamina dan korporasi terhadap dolar sudah melewati batas puncaknya rupiah bisa kembali ke Rp 9.700 per dolar pada akhir tahun," kata Ferry.
(qom/)











































