Pasar Saham Babak Belur, IHSG Rontok 54,104 Poin
Senin, 29 Agu 2005 16:38 WIB
Jakarta - Bak diterpa badai, kondisi pasar saham di BEJ terlihat hancur lebur. IHSG pada perdagangan Senin (29/8/2005) sempat mencatat penurunan terbesar dalam sejarah hingga 67,882 poin.Namun akhirnya IHSG ditutup 'hanya' anjlok 54,104 poin pada level 994,770. Terpuruknya indeks seiring meluncurnya rupiah yang melewati batas psikologis Rp 10.500 per dolar dan melejitnya harga minyak ke level US$ 70 per barel.Kondisi ini diperparah dengan tidak jelasnya kebijakan pemerintah sehingga imbauan agar pelaku pasar tidak panik menjadi memble. Melemahnya rupiah juga membuat investor pasar modal banting setir memburu dolar.Indeks LQ 45 turun 12,897 poin pada level 216,681, Jakarta Islamic Index (JII) turun 9,749 poin pada level 167,485, Indeks Papan Utama (MBX) turun 13,600 poin pada level 270,324, dan Indeks Papan Pengembangan (DBX) turun 15,880 poin pada level 207,839.Perdagangan di pasar reguler terlihat sangat ramai oleh aksi jual dengan transaksi yang terjadi sebanyak 25.393 kali pada volume 5.776.838 lot saham senilai Rp 2,167 triliun. Hanya 10 saham yang naik, sisanya 163 saham turun dan 189 saham stagnan.Saham-saham yang turun harganya di top loser antara lain Astra International (ASII) turun Rp 900 menjadi Rp 9.600, Pabrik Kertas Tjiwi Kimia (TKIM) turun Rp 425 menjadi Rp 2.375, United Tractor (UNTR) turun Rp 375 menjadi Rp 3.375, BRI (BBRI) turun Rp 225 menjadi Rp 2.325, dan Telkom (TLKM) turun Rp 200 menjadi Rp 4.775.Sedangkan saham yang masih mampu mencatat kenaikan harga antara lain Sepatu Bata (BATA) naik Rp 500 menjadi Rp 14.500, Unilever Indonesia (UNVR) naik Rp 25 menjadi Rp 4.425, Lippo Cikarang (LPCK) naik Rp 20 menjadi Rp 250, Fajar Surya Wisesa (FASW) naik Rp 10 menjadi Rp 1.000, dan Bentoel International Investama (RMBA) naik Rp 5 menjadi Rp 120.Menurut analis dari Kuo Capital Edwin Sinaga, penurunan indeks sudah di luar akal sehat. Karena itu, ia mengimbau pemerintah mengambil kebijakan yang tepat di sisi makro ekonomi, sehingga bisa berdampak positif di pasar modal. Pemerintah juga diminta tidak mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang mengganggu pasar yang sedang anjlok. "Faktor utama penurunan indeks karena adanya pernyataan kenaikan BBM yang tidak jelas waktunya. Ini yang menambah pasar panik," katanya.
(qom/)











































