Laba Bersih Antam Naik 6 Persen

Laba Bersih Antam Naik 6 Persen

- detikFinance
Rabu, 31 Agu 2005 19:42 WIB
Jakarta - PT Antam Tbk mencatat laba bersih konsolidasi sebesar Rp 416 miliar untuk semester I 2005. Peningkatan sebesar 6 persen ini disebabkan oleh kenaikan harga feronikel dan emas serta peningkatan volume penjualan bijih nikel saprolit. Hal ini dikemukakan dalam laporan PT Antam ke Bursa Efek Jakarta, (31/8/2005). Walaupun volume penjualan emas hanya naik 3 persen namun pendapatan komoditas ini naik 19 persen menjadi Rp 237 miliar. Demikian juga dengan volume penjualan nikel yang turun 4 persen namun pendapatannya meningkat 12 persen menjadi Rp 678 miliar. Peningkatan harga jual nikel telah meningkat selama tiga tahun terakhir karena tiga alasan utama. Yaitu peningkatan pertumbuhan industri riil global, jumlah persediaan nikel yang menipis serta melemahnya nilai rupiah. Brookhunt, konsultan industri metal dari London Inggris memperkirakan harga spot nikel akan bertahan sebesar US$ 5,98 per pon dari tahun 2005-2010. Harga jual emas di spot internasional juga naik 4 persen menjadi US$ 427,38 per troy ounce. Pendapatan utama PT Antam tetap berasal dari nikel dan emas yang menyumbang masing-masing 73 persen dan 21 persen. Sedangkan sisanya berasal dari komoditas bauksit dan pasir besi. Total penjualan pada semester pertama sebesar Rp 1,3 triliun. Secara keseluruhan, 83 persen penjualan PT Antam diekspor sehingga hampir seluruh pendapatannya berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS). PT Antam juga mengaku tidak terpengaruh dengan kebijakan pemerintah menghapus subsidi bahan bakar minyak (BBM) di akhir Maret 2005. Hal ini karena adanya penurunan produksi feronikel yang menggunakan 10.000 per ton produksi. Selain itu, sejak Januari 2005, tiga perempat kebutuhan BBM Antam sudah menggunakan Marine Fuel Oil (MFO), salah satunya sebagai bahan bakar pembangkit listrik baru PT Antam, Wartsila. Sebelumnya, Antam juga memiliki stok BBM selama tiga bulan untuk pembangkit listrik di Pomala. Sehubungan dengan pencabutan subsidi BBM untuk industri pertambangan pada bulan Agustus, Antam mengestimasikan biaya pemakaian BBM untuk bahan bakar tahun 2005 naik menjadi Rp 220 miliar. (mar/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads