Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 05 Des 2018 17:16 WIB

Dijual Sandiaga, Berapa Harga Saham Saratoga Sekarang?

Danang Sugianto - detikFinance
Ilustrasi/Foto: Ari Saputra Ilustrasi/Foto: Ari Saputra
Jakarta - Calon Wakil Presiden Sandiaga Salahuddin Uno secara bertahap melepas saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG). Pria yang akrab disapa Sandi itu tercatat sudah mengantongi Rp 503 miliar dari hasil beberapa kali menjual saham SRTG.

Setelah aksi jual saham terakhir oleh Sandi diinformasikan kemarin, hari ini saham SRTG tercatat turun 5% ke posisi Rp 3.800. Transaksi SRTG hari ini begitu sepi hanya dua kali transaksi dari dua lot saham dengan nilai transaksi hanya Rp 770.000.

Jika dilihat dari awal tahun saham SRTG sebenarnya dalam tren positif. Saham SRTG tercatat naik 6,15% dari posisi awal tahun Rp 3.570.


Jika dilihat secara sepekan, saham SRTG juga tercatat naik 2,15%. Namun jika ditarik secara bulanan saham SRTG tercatat turun 4,04%.

Pergerakan saham SRTG sebenarya cenderung datar-datar saja. Sebab saham ini sangat sepi transaksi.

Hari ini saja saham SRTG baru ditransaksikan dua kali. Masing-masing transaksi hanya dilakukan hanya satu lot atau 100 lembar saham. Bahkan dua hari perdagangan kemarin di Senin dan Selasa sama sekali tidak ada transaksi.

Rata-rata frekuensi saham SRTG juga kebanyakan di bawah 10 kali. Tentu sangat jauh jika dibandingkan dengan saham yang ada di dalam LQ45. BBCA misalnya setiap hari ada sekitar 200.000 lot saham atau setara 20 juta lembar saham yang diperdagangkan setiap harinya.

Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali menerangkan, untuk perusahaan yang bergerak di bidang investasi memang wajar jika rata-rata sepi transaksi. Para investor yang memegang saham perusahaan investasi biasanya untuk jangka panjang.

"Biasanya memang hold untuk long term karena keuntunganya saat perusahaan tersebut berhasil menjual hasil portofolio investasinya," terangnya kepada detikFinance.


Perusahaan investasi memang berbeda dengan perusahaan biasa. Biasanya pelaku investor bisa memprediksi kinerja perusahaan dengan melihat perkembangan dari pendapatan ataupun penjualannya.

Sementara perusahaan investasi baru bisa terlihat kinerjanya saat melampirkan kinerja investasinya. Portofolionya akan bagus ketika perusahaan berhasil berinvestasi hingga nilainya meningkat ketika dijual kembali. (das/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed