Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 12 Des 2018 11:49 WIB

Kenapa Rupiah Keok Lagi Lawan Dolar AS?

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Dolar AS/Foto: Pradita Utama Dolar AS/Foto: Pradita Utama
Jakarta - Rupiah kembali melemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Buktinya siang ini pukul 11.32 WIB berdasarkan data perdagangan Reuters, dolar AS berada di level Rp 14.600.

Menurut Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam kondisi tersebut dikarenakan sentimen positif yang berganti menjadi sentimen negatif.

Sebab, kata Pieter, sebelumnya penguatan rupiah dipengaruhi berbagai berita bagus mulai dari kemenangan Partai Demokrat di Pemilu paruh waktu AS hingga perkiraan The Fed tidak akan menaikkan suku bunga. Hal itu mendorong investor kembali masuk ke Indonesia.

"Bulan November cukup banyak good news di global mulai dari kemenangan Demokrat di Pemilu sela AS, hingga gencatan senjata perang dagang AS dan China. Sementara itu, perkiraan The Fed tidak akan menaikkan suku bunga serta penurunan harga minyak mentah menjadi good news untuk kondisi domestik," jelasnya kepada detikFinance, Rabu (12/12/2018).

"Berbagai perkembangan itu memunculkan sentimen positif bagi investor asing untuk kembali masuk ke pasar negara emerging termasuk Indonesia," sambung dia.


Namun, ternyata hal tersebut tak bertahan lama karena terjadi sentimen negatif. Hal itu pun membuat investor ragu dan menarik modal asingnya dari pasar Indonesia sehingga menyebabkan rupiah terdepresiasi.

"Tapi penguatan yang disebabkan aliran hot money ini sangat rentan. Ketika good news berganti bad news dan sentimen positif investor asing berakhir, aliran modal asing juga terhenti atau bahkan berbalik keluar. Kondisi ini lah yang terjadi selama beberapa hari di awal Desember ini yang menyebabkan rupiah kembali melemah," papar dia.

Piter menjelaskan, nilai tukar rupiah akan terus mengalami ketidakpastian karena saat ini pasar Indonesia masih dipengaruhi oleh investor asing.

"Selama pergerakan rupiah masih lebih banyak digerakkan oleh keluar masuknya hot money, rupiah akan terus volatile," jelas dia.


Sementara itu, pengamat INDEF Bhima Yudishtira mengatakan pelemahan rupiah dikarenakan sentimen negatif, seperti isu perang dagang, keputusan OPEC memangkas biaya produksi.

"Potensi memanasnya trade war masih ada meskipun otoritas Kanada sudah lepaskan CFO Huawei. Harga minyak fluktuatif pasca keputusan OPEC pangkas produksi. Pelaku pasar menunggu episode berikutnya dari Brexit sehingga ciptakan instabilitas di pasar keuangan Eropa. Pada intinya seminggu terakhir investor asing menahan masuk ke emerging market," tutup dia.



Tonton juga 'Ini 4 Pecahan Rupiah yang Ditarik BI':

[Gambas:Video 20detik]

Kenapa Rupiah Keok Lagi Lawan Dolar AS?

(ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com