#10YearsChallenge, Dolar AS di 2009 Rp 11.930, Sekarang Berapa?

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 17 Jan 2019 13:31 WIB
Foto: Dolar AS/ Selfie Miftahul Jannah
Jakarta - Belakangan ini warganet tengah terjangkit virus tagar 10 years challange. Mereka memajang foto transformasi 10 tahun lalu dan sekarang.

Tujuan dari tantangan itu untuk melihat perbedaan di antara kedua masa itu. detikFinance mencoba ikut tantangan 10 years challange itu tapi dari sisi ekonomi. Pertama dari sisi nilai tukar kita, Rupiah.

Bagaimana perbedaan nilai tukar rupiah terhadap dolar di 2009 dan 2019. Sebesar apa perbedaannya?

Melansir data Reuters, Kamis (17/1/2019), nilai pada penutupan 1 Januari 2009 dolar AS berada di posisi Rp 11.380. Sementara pada 1 Januari 2019 dolar AS sudah berada di posisi Rp 14.160.


Jika dihitung perubahannya maka nilai tukar rupiah selama 10 tahun sudah turun 24.4%. Tapi kondisi nilai tukar rupiah pada kedua masa itu sedikit berbeda. Pelemahan rupiah di sepanjang 2018 masih lebih baik ketimbang di 2008.

Dolar AS pada 1 Januari 2008 berada di posisi Rp 9.385, sementara di 1 Januari 2009 sudah berada di level Rp 10.950 atau melemah 16,67%. Dolar AS juga sempat melonjak hingga Rp 12 ribuan.

Tentu banyak faktor yang membuat rupiah di tahun itu begitu terpuruk. Kondisi ekonomi global menjadi biang kerok.

"Ya betul 2008 itu karena ada krisis global," kata Vice President Research Artha Sekuritas Indonesia Frederik Rasali.

Krisis saat itu merupakan krisis finansial global yang terjadi di banyak negara. Indonesia pun terkena imbasnya.


Di sepanjang 2018, menurut data chart Reuters nilai tukar rupiah pada penutupan 1 Januari 2018 berada di posisi Rp 13.535, sementara pada penutupan 1 Januari 2019 berada di level Rp 14.105. Jika dihitung penurunannya mencapai 4,21%.

Namun kondisi rupiah di 2018 juga begitu berfluktuatif. Bahkan rupiah sempat anjlok hingga level Rp 15 ribuan di bulan Oktober.

Faktor eksternal disebut sebagai penyebab penguatan dolar AS saat itu. Tahun lalu memang begitu banyak gejolak yang disebabkan naiknya suku bunga acuan The Fed hingga ketegangan dua negara ekonomi besar yakni AS dan China. (das/zlf)