BEJ Akan Minimalkan Rugi KOS
Senin, 12 Sep 2005 12:10 WIB
Jakarta - Untuk menekan rugi yang terlalu banyak dalam perdagangan Kontrak Opsi Saham (KOS), Bursa Efek Jakarta (BEJ) tengah mengkaji spesifikasi bisnis (business specifications) transaksi perdagangan KOS."Pengkajian business specifications ini supaya rugi tidak terlalu banyak. Selama ini faktor risiko posisi orang dilikuidasi kalau lebih dari auto exposure," kata Direktur Perdagangan dan Keanggotaan BEJ MS Sembiring pada detikcom, Senin (12/9/2005).BEJ masih memberikan batasan (auto exposure) untuk perdagangan KOS sebesar 10 persen. Maksudnya penurunan atau kenaikan harganya tidak boleh lebih dari 10 persen. Saat ini baru empat saham yang diperdagangkan dalam KOS. Keempat saham itu adalah PT Astra International, PT BCA, PT Indofood Sukses Makmur, dan PT Telekomunikasi Indonesia. Sebelumnya, ada lima saham yang masuk dalam KOS. Namun, saham HM Sampoerna (HMSP) dikeluarkan BEJ, setelah likuiditasnya menurun pasca akuisisi oleh Phillip Morris Indonesia (PMI).Menurut Sembiring, saat ini ada 32 emiten yang layak untuk diperdagangkan dalam KOS. Namun sebelum sebelum business specifications ini selesai, BEJ tidak akan menambah jumlah saham yang ada di KOS. "Supaya investor tidak bingung," ujarnya. KOS adalah efek yang memuat hak beli (call option) atau hak jual (put option) atas saham induk (saham acuan) dalam jumlah dan harga pelaksanaan (strike price atau exercise price) tertentu, serta berlaku dalam periode tertentu.KOS adalah produk turunan (derivatif) dari pasar saham BEJ dan menjadi sarana lindung nilai (hedging). KOS juga bertujuan meningkatkan likuiditas pasar bagi saham induk.KOS yang diluncurkan BEJ bergaya Amerika (American Options) artinya hak bisa digunakan (exercise) kapan saja selama kontrak opsi berlangsung sampai jatuh tempo. BEJ memperdagangkan KOS sejak 6 Oktober 2004. Sedangkan perdagangan KOS saat ini baru mencapai rata-rata lima sampai enam kontrak dengan nilai transaksi sekitar Rp 200-Rp 300 juta per hari, dan diikuti oleh 40 perusahaan efek anggota bursa (PE AB). Asian IndexSembiring juga menjelaskan, jumlah saham yang masuk dalam Asian Index yang digagas negara-negara anggota ASEAN secara resmi akan diumumkan pada 21 September 2005. Namun yang jelas ada tujuh emiten BEJ yang akan masuk dalam Asian Index.Menurut Sembiring, saham-saham yang kemungkinan masuk dalam Asian Index adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT Indosat Tbk, PT Medco Energi Internasional Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, PT Astra Internasional Tbk, PT Unilever Tbk, PT Bank Mandiri Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk.Jumlah saham dari Indonesia yang masuk Asian Index sama dengan Thailand sebanyak 7 perusahaan. Sedangkan Malaysia dan Singapura masing-masing sekitar 15 perusahaan dan satu dari Filipina. "Jadi jumlahnya mungkin 40-an perusahaan saja," kata Sembiring.
(ir/)











































