Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 14 Mar 2019 19:12 WIB

Setelah Saham Anjlok, Kini Peringkat Utang Boeing Terancam Turun

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: DW (News) Foto: DW (News)
Jakarta - Perusahaan Boeing tengah menghadapi masalah besar. Produk pesawatnya Boeing 737 MAX dilarang terbang di seluruh dunia setelah dua kali mengalami kecelakaan.

Saham perusahaan telah anjlok. Kinerja keuangan perusahaan diprediksi memburuk. Lalu bagaimana lembaga pemeringkat seperti Fitch Ratings melihatnya?

Lembaga pemeringkat internasional ini belum mengambil sikap. Rating utang perusahaan masih tetap A Stable.

"Masih terlalu dini untuk mengambil tindakan pemeringkatan kredit pada saat ini, karena kesimpulan akhir tentang Ethiopian Airlines dan Lion Air belum diketahui, dan ada banyak skenario yang bisa dimainkan," dikutip dari keterangan tertulis Fitch Ratings, Kamis (14/3/2019).

Meskipun Fitch Ratings melihat adanya skenario buruk yang sistemik secara jangka panjang, seperti keterlambatan pengiriman material, pembatalan pesanan signifikan dan sentimen publik negatif terhadap Boeing 737 MAX.

Skenario buruk seperti itu dapat melemahkan profil kredit Boeing dan beberapa pemasoknya dan memberikan tekanan signifikan pada beberapa emiten maskapai.

Efek pada transaksi utang yang dijamin pesawat kemungkinan akan beragam, dengan kesepakatan yang mengandung pesawat Boeing MAX berpotensi mendapat tekanan.

"Kami tidak berharap MAX akan memiliki efek material pada lessor pesawat yang diberi peringkat oleh Fitch," sebut lembaga pemeringkat itu.



Meskipun Fitch tidak mengambil tindakan pemeringkatan saat ini, mereka sedang memantau beberapa item utama dalam waktu dekat. Poin data utama akan menjadi temuan awal investigasi kecelakaan Ethiopia Airlines.

Jika ada korelasi antara penyebab dua tabrakan baru-baru ini, Fitch perkirakan situasinya memburuk, dan penundaan pengiriman pembelian pesawat akan terjadi.

Kesamaan antara kecelakaan Lion Air dan Ethiopian Airlines mungkin akan mengindikasikan adanya cacat desain yang perlu ditangani.

Fitch akan memantau terus, fokus pertama pada armada yang ada dan kemudian proses produksi. Fitch juga akan mengawasi efek pada sentimen publik terbang terhadap 737 MAX. Selain itu, akan dinilai kemampuan maskapai penerbangan untuk mendapatkan kapasitas pengganti untuk 737 MAX dan seberapa besar keterlambatan pengiriman akan memengaruhi bisnis perusahaan.

Profil kredit Boeing tidak segera terpengaruh oleh dua kecelakaan tersebut karena likuiditas substansial perusahaan, fleksibilitas finansial, leverage yang rendah, posisi pasar, dan diversifikasi pendapatan.

Jika situasi buruk berlanjut, Fitch berharap Boeing akan menyesuaikan atau menghilangkan pembelian kembali saham dan mengevaluasi kembali kenaikan yang direncanakan dari tingkat produksi.

Pesawat ini pertama kali dikirim pada pertengahan 2017 dan sudah ada 376 pesawat 737 MAX dikirim hingga Februari 2019.

MAX adalah produk utama bagi Boeing, dengan sekitar 90% dari 2019 pengiriman program diperkirakan berasal dari 737 MAX. Fitch memperkirakan pengiriman 2019 737 MAX sekitar 590 pesawat bernilai US$ 27 miliar - US$ 30 miliar.

(das/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed